Musisi Dunia Boikot Spotify, Kecam Investasi CEO Daniel Ek ke Teknologi Militer

spotify

Gelombang boikot terhadap platform musik Spotify kian meluas setelah CEO Daniel Ek diketahui berinvestasi di perusahaan teknologi militer Helsing. Perusahaan yang memproduksi sistem kecerdasan buatan untuk pertahanan. Keputusan tersebut menuai kecaman dari berbagai musisi lintas negara, termasuk dari Indonesia. Band metal Seringai, solois Frau, hingga sejumlah label independen di Tanah Air secara terbuka menarik karya mereka dari platform itu. Mereka menilai investasi tersebut bertentangan dengan nilai kemanusiaan, terlebih di tengah meningkatnya konflik global. “Kami tidak ingin musik kami menjadi bagian dari sistem yang membiayai perang,” ujar Leilani Hermiasih alias Frau di laman kampanye No Music for Genocide.

Respons Global dan Solidaritas Seniman

Aksi ini bukan hanya datang dari Indonesia. Band legendaris asal Inggris, Massive Attack, termasuk di antara yang pertama menyatakan keluar dari Spotify. Hal ini dilakukan sebagai bentuk solidaritas terhadap korban perang di Palestina dan negara-negara konflik lain. Mereka menyebut langkah Daniel Ek sebagai “ironis dan tidak beretika” karena menggunakan keuntungan dari musik untuk mendukung industri senjata. Boikot ini berkembang menjadi gerakan global di bawah tagar #NoMusicForGenocide. Menyerukan para musisi, label, dan pendengar untuk menolak keterlibatan ekonomi dalam kekerasan bersenjata. Sejumlah pengamat menilai aksi ini sebagai momen langka di mana pelaku industri kreatif bersatu melawan praktik bisnis yang mereka anggap amoral.

Dampak dan Makna Sosial di Balik Aksi Boikot

Fenomena boikot Spotify ini menunjukkan bahwa musisi kini memiliki kesadaran sosial yang lebih kuat dan tak lagi memisahkan musik dari moralitas. Di Indonesia, aksi ini memicu diskusi luas mengenai tanggung jawab etis perusahaan teknologi terhadap kemanusiaan. Warganet ramai mengapresiasi keberanian para musisi yang menolak tunduk pada kepentingan komersial. Meski langkah ini bisa berdampak pada pendapatan mereka, banyak yang menilai keputusan tersebut sebagai bentuk keberanian moral yang layak diteladani. Gerakan “No Music for Genocide” kini berkembang menjadi simbol perlawanan kultural—pesan yang keras bahwa suara musik tak akan pernah sejalan dengan deru mesin perang.