Dua tahun terakhir, Israel mencatat kemenangan besar di medan perang. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu berdiri di samping Presiden Trump di Knesset, dengan bangga menyebut nama-nama musuh yang berhasil dikalahkan: Hamas, Hezbollah, hingga sekutu Iran. “Sinwar, Deif, Haniyah, Nasrallah, Assad semuanya sudah tumbang,” katanya lantang. Tapi kemenangan itu membawa bayangan panjang. Analis Paul Salem dari Middle East Institute menilai, “Netanyahu memenangkan perang, tapi kehilangan perdamaian.” Israel memang menaklukkan lawan, tapi gagal mengubah keberhasilan militer menjadi solusi politik jangka panjang. Para pakar menilai, kemenangan beruntun tanpa arah diplomasi jelas menunjukkan krisis strategi. Israel kini berada dalam situasi paradoks, kuat secara militer namun lemah secara moral di mata dunia.
Krisis Kemanusiaan dan Isolasi Global
Di balik kemenangan itu, perang Gaza menyisakan luka mendalam. Konflik bermula dari serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan 1.144 warga Israel. Balasannya jauh lebih mematikan: lebih dari 68.000 warga Palestina terbunuh, sebagian besar perempuan dan anak-anak, menurut data otoritas Gaza. Dunia pun bereaksi keras. Alih-alih memperkuat posisi globalnya, Israel kini menghadapi kecaman internasional, bahkan dari sekutu lamanya seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa. Di PBB, desakan gencatan senjata datang dari berbagai negara. Namun Netanyahu tetap berkeras, menyebut operasi militernya “perlu untuk keamanan nasional.” Di dalam negeri, perdebatan kian panas. Sebagian masyarakat mempertanyakan arah kepemimpinan Netanyahu, sementara kelompok oposisi menuding pemerintah gagal memahami makna kemenangan yang sesungguhnya.
Dilema Keamanan dan Masa Depan Perdamaian
Israel kini berada di persimpangan sejarah. Di satu sisi, negaranya lebih aman dari ancaman eksternal; di sisi lain, semakin terisolasi dan kehilangan simpati dunia. Banyak pengamat menilai kemenangan militer tanpa rekonsiliasi politik hanya akan melahirkan siklus kekerasan baru. Generasi muda Israel dan Palestina tumbuh dalam bayang-bayang kebencian, bukan dialog. “Menang di medan perang mudah,” ujar seorang diplomat Eropa, “tapi membangun perdamaian membutuhkan keberanian yang lebih besar.” Kini, pertanyaan terbesar yang menggantung di Timur Tengah: sampai kapan Israel bisa terus menang perang tanpa benar-benar memenangkan damai? Dalam jangka panjang, tanpa keadilan dan pengakuan timbal balik, kemenangan itu hanya akan menjadi catatan sejarah yang hampa, bukan fondasi bagi masa depan yang lebih aman dan manusiawi bagi kedua bangsa.

