Hong Kong Jadi Gerbang Modal Internasional untuk Indonesia

Hong Kong kembali menegaskan perannya sebagai pusat keuangan internasional. Kal ini dengan menawarkan diri menjadi mitra utama Indonesia dalam menarik arus investasi global. Posisi geografis yang strategis dan reputasi sebagai hub finansial Asia menjadikan wilayah administratif Tiongkok ini penting bagi berbagai proyek nasional Indonesia. Utamanya di sektor keuangan. Serta pembangunan infrastruktur hingga energi baru terbarukan (EBT). Associate Director-General of Investment Promotion Invest Hong Kong, Loretta Lee, menyebut bahwa keunggulan Hong Kong di bidang layanan finansial, fintech, dan pembiayaan hijau dapat menjadi katalis percepatan transformasi digital dan transisi energi di Indonesia. “Hong Kong dapat menjadi mitra penting bagi Indonesia untuk mengakselerasi pembangunan ekonomi, termasuk dalam transformasi energi dan pengembangan kota pintar,” ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (16/9/2025).

Peluang di Ibu Kota Baru dan Belt and Road

Peluang investasi semakin terbuka lebar dengan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN). Investor dinilai memiliki daya tawar besar dalam pengembangan solusi kota pintar. Selain itu juga dalam konstruksi berkelanjutan hingga sistem logistik modern. InvestHK bahkan siap memfasilitasi kemitraan bisnis melalui konsultasi dan akses informasi khusus bagi perusahaan Indonesia yang ingin menembus pasar internasional. Di sisi lain, Belt and Road Initiative (BRI) yang digagas Tiongkok semakin memperkuat hubungan bilateral. Data mencatat, investasi keluar Hong Kong ke negara-negara anggota BRI pada 2023 mencapai 133 miliar dollar AS. Melonjak 3,6 kali lipat dibandingkan 2013. Sementara perdagangan dengan negara-negara BRI di luar China daratan pada 2024 tumbuh hingga 178 persen. Mencapai 276,1 miliar dollar AS.

Arti Strategis bagi Indonesia ke Depan

Bagi Indonesia, kehadiran Hong Kong sebagai pintu modal internasional tak hanya menyangkut aliran dana. Hal ini juga menjadikan transfer teknologi dan percepatan transformasi struktural terealisasi lebih cepat. Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN Kemenko Perekonomian, Ferry Irawan, menegaskan bahwa proyek-proyek BRI sebelumnya, seperti kereta cepat Jakarta, Bandung senilai 7,6 miliar dollar AS, telah terbukti memberi dampak signifikan. Mulai dari penyerapan 90 persen tenaga kerja lokal hingga tambahan kontribusi 0,6 persen pada PDB Jakarta dan Jawa Barat. Ke depan, Indonesia berharap sinergi dengan Hong Kong akan memperkuat konektivitas regional, memperluas industrialisasi hijau, dan menjadikan negara ini pemain kunci dalam rantai pasok global. Lebih dari sekadar kerja sama ekonomi, momentum ini mencerminkan arah baru kemitraan strategis yang bisa membentuk lanskap investasi Asia di masa mendatang.