Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah SPBU Shell di Jakarta memunculkan pemandangan tak biasa. Alih-alih antrean kendaraan yang mengular, kini pengunjung disuguhi etalase camilan sederhana. Dari keripik singkong, biskuit, hingga seduhan kopi sachet, deretan produk itu jadi tumpuan baru bagi para petugas yang biasanya sibuk mengisi tangki kendaraan. “Mau gimana lagi, stok bensin habis. Jadi ya kita coba bertahan dengan cara lain,” ungkap salah satu petugas di kawasan Fatmawati, Jakarta Selatan. Suasana lengang di pompa bahan bakar seolah menjadi simbol pukulan keras bagi bisnis ritel energi ini.
BBM Kosong, Pekerja Terpaksa Dirumahkan
Krisis pasokan ini tidak hanya berdampak pada konsumen, tetapi juga menghantam para pegawai. Beberapa petugas SPBU Shell mengaku terpaksa dirumahkan lantaran tidak ada lagi aktivitas utama yang bisa mereka kerjakan. Sejumlah stasiun bahkan hanya mengandalkan penjualan kecil-kecilan dari makanan ringan dan minuman instan. Menurut keterangan, BBM jenis Super hingga V-Power Nitro+ tak lagi tersedia sejak beberapa hari terakhir. Membuat pelanggan beralih ke SPBU lain. Kehilangan aliran konsumen otomatis menggerus pendapatan dan ujungnya menekan tenaga kerja yang sebelumnya menggantungkan hidup dari gaji tetap di sektor ini. Fenomena ini kian menyoroti rapuhnya rantai distribusi energi ketika gangguan pasokan terjadi.
Pergeseran Profesi
Kisah para petugas SPBU Shell yang kini menjajakan keripik dan kopi di tengah lengangnya dispenser bensin, sejatinya adalah potret ketangguhan masyarakat urban menghadapi ketidakpastian ekonomi. Mereka yang tadinya berada di garda depan pelayanan energi, kini harus kreatif mencari cara agar dapur tetap mengepul. Di satu sisi, kondisi ini menyentil tentang betapa vitalnya ketergantungan kota besar terhadap pasokan BBM yang stabil. Di sisi lain, pengalaman ini memperlihatkan daya lenting pekerja lapangan yang tidak menyerah pada keadaan. Transformasi darurat ini adalah alarm sosial: ketika energi langka, dampaknya bukan hanya soal transportasi macet, tetapi juga tentang nasib ribuan keluarga yang menggantungkan hidup pada roda bisnis energi.

