Di sela-sela reruntuhan rumah dan bangunan sekolah yang belum sepenuhnya diperbaiki, suara anak-anak di Myanmar masih bergetar setiap kali bumi berguncang sedikit saja. Bayangan gempa besar berkekuatan 7,7 skala Richter yang melanda enam bulan lalu masih membekas dalam ingatan mereka. “Saya merasa cemas kalau mendengar suara keras, takut itu gempa lagi,” ucap Myat Thu, remaja 17 tahun yang kini sering sulit tidur. Kisah seperti Myat bukan satu-satunya. Banyak anak kecil masih memilih tidur dengan orang tua mereka karena rasa aman seakan telah lenyap sejak tanah bergoyang dan ribuan nyawa melayang. Getaran yang tercatat sebagai gempa terkuat dalam satu abad itu merenggut lebih dari 3.800 korban jiwa dan membuat lebih dari 50.000 rumah rata dengan tanah atau rusak parah. Jalanan di sejumlah kota masih dipenuhi puing, sementara sekolah-sekolah banyak yang tak bisa difungsikan.
Dari Rumah Runtuh hingga Jiwa yang Terguncang
Selain kehilangan tempat tinggal, jutaan orang kini masih menghadapi kenyataan hidup di shelter darurat yang penuh sesak. Laporan lembaga kemanusiaan menyebut sekitar 9,3 juta orang masih membutuhkan tempat tinggal yang layak. Air bersih, sanitasi, dan fasilitas pendidikan masih minim. Dampak jangka panjang terlihat jelas pada perilaku anak-anak. Sebagian menjadi lebih pendiam, sebagian lain mudah marah, ada pula yang menunjukkan tanda-tanda depresi. Guru dan orang tua kewalahan menghadapi perubahan ini, apalagi dalam situasi di mana mereka sendiri juga mengalami trauma serupa. “Anak-anak kehilangan rasa aman. Setiap malam kami harus memastikan mereka bisa tidur dengan tenang, padahal kami sendiri masih diliputi kecemasan,” ujar seorang guru di wilayah terdampak. Kondisi ini menggambarkan betapa gempa tidak hanya mengguncang bumi, melainkan juga mengguncang fondasi psikologis generasi muda.
Menyulam Harapan di Tengah Reruntuhan
Enam bulan berlalu, Myanmar masih berjuang menyulam kembali harapan dari reruntuhan. Perhatian dunia internasional memang hadir, namun distribusi bantuan kerap terhambat oleh konflik dan akses geografis yang sulit. Bagi anak-anak, setiap dukungan berarti lebih dari sekadar logistik. Mereka membutuhkan ruang aman untuk belajar, bermain, dan merajut kembali keberanian. Pemulihan mental sama pentingnya dengan membangun kembali rumah dan sekolah. Bencana ini seharusnya menjadi pengingat bahwa investasi dalam mitigasi bencana dan perlindungan anak tidak boleh diabaikan. Bangunan tahan gempa, sistem peringatan dini, serta program psikososial yang berkelanjutan harus menjadi prioritas. Jika tidak, trauma akan terus menjerat generasi muda Myanmar. Suara anak-anak yang masih bergetar hingga kini adalah panggilan agar dunia tidak hanya datang memberi bantuan sesaat, tetapi juga menemani mereka sampai benar-benar pulih. Karena bagi mereka, gempa enam bulan lalu bukan hanya peristiwa alam, melainkan luka mendalam yang membentuk cara mereka memandang masa depan.

