Jepang mengejutkan publik internasional dengan pernyataan tegas bahwa mereka belum siap mengakui Palestina sebagai negara berdaulat. Pernyataan ini muncul menjelang Sidang Majelis Umum PBB pekan depan. Hal ini mengejutkan publik di saat banyak negara, terutama dari Eropa, bersiap untuk memberi pengakuan resmi kepada Palestina sebagai bentuk desakan moral terhadap Israel. Media Jepang Asahi Shimbun melaporkan, Perdana Menteri Shigeru Ishiba bahkan dijadwalkan absen dalam pertemuan yang digagas Prancis dan Arab Saudi pada 22 September di New York. Sebuah forum penting untuk membicarakan solusi dua negara bagi konflik Israel-Palestina.
Baca juga : Gelombang Demo Prancis Berbendera One Piece
Diplomasi Tertahan, Bayang-Bayang AS dan Israel
Keputusan Tokyo disebut bukan tanpa tekanan. Reuters mengungkap bahwa Amerika Serikat diduga aktif menekan Jepang melalui berbagai saluran diplomatik agar tidak bergabung dengan gelombang negara-negara pendukung Palestina. Sejumlah pejabat Jepang, yang enggan disebut namanya, menyebut kebijakan ini ditempuh demi menjaga hubungan erat dengan Washington. Sekaligus menghindari sikap konfrontatif Israel yang kian agresif . Meski begitu, Menteri Luar Negeri Jepang Takeshi Iwaya menyampaikan negaranya masih melakukan “penilaian komprehensif”. Termasuk soal waktu dan bentuk yang tepat terkait pengakuan Palestina. Di saat bersamaan, Prancis melalui Menlu Jean-Noel Barrot mendesak Jepang untuk segera bergabung dalam arus internasional yang mendukung Palestina. Tekanan moral terhadap Israel makin menguat setelah PBB secara resmi menyebut agresinya di Jalur Gaza sebagai bentuk kejahatan perang genosida. Dengan korban lebih dari 60 ribu jiwa sejak Oktober 2023 .
Arus Global vs Sikap Jepang
Langkah Jepang ini menimbulkan sorotan tajam. Di satu sisi, Tokyo tetap mendukung deklarasi PBB yang menegaskan pentingnya solusi dua negara. Di sisi lain menolak memberi pengakuan penuh kepada Palestina. Kontras dengan negara-negara seperti Inggris, Prancis, Kanada, dan Australia yang sudah menyatakan siap mengakui Palestina di forum PBB mendatang . Bahkan di internal G7 sendiri, terjadi perbedaan pandangan: Jerman dan Italia menyebut pengakuan segera sebagai langkah kontraproduktif, meski keduanya turut mendukung deklarasi PBB. Keengganan Jepang mengakui Palestina memperlihatkan dilema klasik antara komitmen moral global dan kepentingan geopolitik. Sikap ini sekaligus mencerminkan bagaimana tekanan Amerika Serikat masih berpengaruh besar terhadap keputusan politik luar negeri Tokyo. Di mata publik dunia, absennya Jepang dalam barisan negara pendukung Palestina bisa terbaca sebagai bentuk keberpihakan terselubung, meski Tokyo berusaha menegaskan bahwa mereka hanya menunggu “waktu yang tepat.

