Sulit Gemuk Meski Makan Banyak? Rahasia Tubuh Kurus

Sulit Gemuk

Bagi banyak orang, kelebihan berat badan adalah persoalan utama. Namun di sisi lain, ada kelompok kecil yang justru menghadapi kebalikan. Tubuh mereka sulit gemuk meski sudah makan banyak. Kondisi ini dikenal sebagai constitutional thinness atau kekurusan konstitusional, yang kini mulai diteliti lebih serius oleh ilmuwan. Kasus Bella Barnes, pelatih kebugaran asal Inggris, menjadi sorotan. Ia sering menemui klien yang bukan ingin diet, melainkan menambah berat badan. “Mereka pakai trik pakaian berlapis agar terlihat berisi,” ungkapnya. Fenomena ini sering luput dari perhatian publik, meski diperkirakan 1,9 persen populasi dunia masuk kategori tersebut.

Genetik, Metabolisme, hingga “Set Point” Tubuh

Orang dengan kondisi sulit gemuk ini biasanya memiliki indeks massa tubuh (BMI) sangat rendah, bahkan bisa serendah 14. Uniknya, mereka bisa makan sama banyaknya dengan orang lain, tidak berolahraga berat, tetapi tetap tidak menyimpan lemak. Sejumlah penelitian sejak 1930-an hingga kini menunjukkan faktor genetik berperan besar. Studi pada kembar identik misalnya, memperlihatkan perbedaan signifikan dalam kenaikan berat badan meski diberi tambahan kalori yang sama. Selain itu, tubuh diduga memiliki set point berat tertentu yang selalu coba dipertahankan, baik bagi mereka yang mudah gemuk maupun mereka yang cenderung kurus. Kalori ekstra bisa terbuang melalui termogenesis, gerakan kecil sehari-hari, hingga peran lemak cokelat yang aktif membakar energi. Penelitian juga menemukan jejak gen seperti FTO, MC4R, hingga ALK yang membuat seseorang lebih tahan terhadap peningkatan berat badan.

Stigma dan Makna Sosial

Layaknya obesitas, kekurusan ekstrem juga membawa stigma sosial. Pria kurus kerap dianggap kurang maskulin, sementara perempuan kurus merasa bentuk tubuhnya tak sesuai standar. “Banyak orang kurus dicurigai mengidap gangguan makan,” ujar Jens Lund, peneliti metabolisme dari Universitas Kopenhagen. Risiko kesehatan pun nyata: massa otot lebih sedikit, tulang rapuh di usia tua, hingga masalah kepercayaan diri. Namun, di balik tantangan itu, fenomena ini membuka peluang besar dalam dunia medis. Penemuan gen dan mekanisme metabolisme unik bisa melahirkan terapi baru, baik untuk membantu si kurus menambah berat maupun orang gemuk menurunkan bobot. Pada akhirnya, persoalan berat badan bukan sekadar soal estetika, melainkan refleksi kompleks tentang tubuh manusia, warisan genetik, dan cara kita sebagai masyarakat memandang “ideal” dalam arti yang sesungguhnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *