Jakarta kembali menjadi saksi sejarah ketika Muse tampil di Carnaval Ancol pada Jumat, 19 September 2025. Ribuan penonton memadati area konser sejak sore. Menanti aksi panggung band asal Inggris yang dikenal dengan musikalitas megah dan tata panggung futuristis. Begitu intro lagu Hysteria bergema, sorakan pecah tak terbendung, mengiringi dentuman bass yang jadi ciri khas Muse. Dilanjutkan dengan Uprising, konser pun segera berubah menjadi lautan energi, di mana penonton melompat kompak seakan waktu terhenti di momen itu.
Nostalgia dan Kejutan Langka
Tidak berhenti pada deretan hit populer, Muse menghadirkan kejutan langka dengan membawakan New Born, lagu yang jarang mereka mainkan dalam tur belakangan ini. Dentuman drum dan riff gitar membawa penonton bernostalgia ke era awal 2000-an. Di tengah atmosfer penuh adrenalin, suasana mendadak berubah intim ketika band menyuguhkan Unintended dan Starlight. Ribuan flashlight dari gawai penonton menyala, menciptakan pemandangan bak galaksi yang bergerak selaras dengan alunan musik. “Jakarta, you are amazing tonight,” ujar sang vokalis Matthew Bellamy, disambut riuh tepuk tangan dan teriakan antusias.
Ikatan Emosional yang Sulit Dilupakan
Lebih dari sekadar konser, malam itu menjadi ajang pertemuan kembali antara Muse dengan basis penggemarnya di Indonesia yang telah menanti hampir satu dekade sejak penampilan terakhir. Gelombang energi, nostalgia, dan momen emosional yang tercipta menegaskan bagaimana musik mampu melintasi generasi sekaligus menyatukan ribuan orang dalam satu frekuensi. Muse tak hanya menghadirkan pertunjukan megah, melainkan juga meninggalkan kesan mendalam yang akan terus dikenang oleh para penggemarnya. Jakarta, malam itu, seakan berdetak dalam irama yang sama: irama Muse.

