Di jantung Teheran, keluhan terdengar di setiap sudut pasar dan kafe kecil. “Kita akan hancur,” ungkap Helia, desainer grafis berusia 33 tahun. Setelah melihat harga furnitur melonjak hanya dalam tiga hari. Pernyataan itu mencerminkan keresahan luas di kalangan warga Iran saat sanksi Perserikatan Bangsa-Bangsa kembali diberlakukan penuh pada Minggu (28/9). Nilai rial jatuh ke titik terendah baru. Harga kebutuhan pokok melambung, dan rasa cemas menyelimuti rumah tangga. Suasana yang tadinya sudah berat, kini berubah menjadi beban yang semakin mencekik. Bahkan mereka yang sebelumnya masih optimistis kini ikut hanyut dalam keputusasaan. Menimbang apakah masih bisa bertahan di tengah krisis yang seakan tiada ujung.
Ekonomi yang Tercekik
Kembalinya sanksi menutup akses Iran ke pasar internasional, terutama pada ekspor minyak yang menjadi sumber utama pendapatan negara. Mata uang anjlok tajam, membuat inflasi makin liar. Bagi warga biasa, dampaknya langsung terasa. Bahan makanan naik berlapis-lapis, biaya transportasi membengkak, dan rencana masa depan terpaksa ditunda. Laporan menyebutkan para pelaku usaha kecil, dari pedagang kain hingga tukang roti, harus menanggung kenaikan biaya bahan baku tanpa kepastian pelanggan. Pemerintah, meski berupaya meredam lewat retorika ketahanan nasional, sulit menenangkan warga yang menyaksikan daya beli mereka tergerus habis-habisan. Para analis menilai, tanpa strategi mitigasi jelas, ekonomi Iran bisa masuk ke spiral kemiskinan yang lebih dalam, menambah daftar panjang penderitaan masyarakat yang sudah berlangsung lebih dari satu dekade akibat sanksi berulang.
Bayangan Suram ke Depan
Dari obrolan warung hingga antrean panjang di apotek, nada frustrasi terdengar seragam. Rakyat mempertanyakan sampai kapan harus menanggung penderitaan atas kebijakan yang mereka tidak bisa kendalikan. Generasi muda, yang sebelumnya berharap pada keterbukaan ekonomi, kini dihadapkan pada masa depan suram penuh ketidakpastian. “Harga terus naik, tapi gaji tetap,” kata seorang sopir taksi dengan nada getir. Situasi ini bukan sekadar soal angka di bursa valuta, melainkan potret krisis sosial yang mengancam ketahanan sebuah bangsa. Jika tak ada jalan keluar diplomatik, rakyat Iran akan tetap menjadi korban utama tarik-ulur politik global. Dan bila kondisi terus berlarut, risiko ketidakstabilan sosial pun semakin nyata, membuka potensi gelombang protes yang bisa menambah kompleksitas politik di kawasan yang sudah rapuh.

