Guruh Gipsy Guncang Synchronize Fest 2025, Perpaduan Musik dan Budaya Nusantara

guruh gipsy synchronize

Malam di Gambir Expo, Kemayoran, terasa penuh nostalgia ketika Guruh Gipsy naik ke panggung utama Synchronize Fest 2025. Guruh Sukarno Putra, dengan kharisma khasnya, memimpin para personel legendaris seperti Keenan Nasution dan Abadi Soesman dalam sebuah pertunjukan yang tak sekadar konser. Ini juga menjadi perayaan budaya dan kenangan. Sorak penonton pecah saat lagu-lagu dari album legendaris Guruh Gipsy (1977) mengalun. Membawa ingatan pada masa ketika musik Indonesia masih menapaki jalan idealismenya. “Ini persembahan untuk teman-teman kita yang sudah almarhum,” ujar Guruh dengan nada sendu, mengenang Chrisye, Oding Nasution, dan Roni Harahap. Ucapannya disambut hening penuh hormat sebelum tepuk tangan menggema di seluruh arena.

Kreasi Lintas Generasi

Pertunjukan yang memadukan musik dan budaya ini dimulai dengan tarian Barong dari Bali, diiringi gamelan yang menggema di udara malam Jakarta. Nuansa tradisional berpadu dengan elemen progresif rock, menghadirkan harmoni yang menggugah. Daryl Nasution membuka dengan “Smaradhana”, disusul Andy /Rif yang membawakan “Janger 1897 Saka”. Tari Legong memperindah panggung, menghadirkan visual penuh makna dari semangat Nusantara. Di antara kolaborator, tampak nama-nama lintas generasi seperti Bubi Sutomo, Irang Arkad, Kompiang Raka, hingga Gamelan Saraswati. Semua menyatu dalam aransemen yang menghidupkan kembali semangat eksperimental Guruh Gipsy. Perpaduan antara keanggunan budaya dan keberanian musikal. Festival yang mengusung tema #SalingSilang ini memang mengajak publik untuk menautkan akar musik dengan lintasan zaman.

Makna Sosial dan Spirit Keindonesiaan

Lebih dari sekadar reuni musisi, penampilan Guruh Gipsy malam itu menjadi refleksi atas perjalanan musik Indonesia yang terus berevolusi tanpa meninggalkan akarnya. “Kami mohon doa agar mereka semua mendapat tempat terbaik dan husnul khatimah. Terima kasih dan Merdeka,” seru Guruh, menutup penampilannya dengan lagu “Indonesia Maharddhika”. Momen itu seperti menegaskan bahwa musik bukan hanya hiburan, tapi juga cermin jiwa bangsa. Synchronize Fest yang telah memasuki edisi ke-10 ini kembali menjadi wadah bagi dialog budaya lintas generasi dari pop, jazz, rock, hingga dangdut, semuanya bertemu dalam satu semangat kebersamaan. Guruh Gipsy malam itu bukan sekadar tampil, tetapi menghidupkan kembali makna bahwa akar tradisi dan semangat modernitas dapat berpadu menjadi identitas yang membanggakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *