Di tengah derasnya arus tren kebugaran yang digerakkan selebritas dan influencer, suplemen NAD menjadi bintang baru. Dari media sosial hingga klinik kecantikan, banyak yang memuji zat ini sebagai kunci energi dan awet muda. Kendall Jenner dan Hailey Bieber bahkan tampak menerima infus NAD di tayangan televisi. Namun, di balik sorotan itu, para ilmuwan justru meminta publik menahan diri. “NAD memainkan peran vital dalam transfer energi di sel, tapi ilmu pada manusia masih jauh dari kata pasti,” ujar Dr. Eric Verdin, Presiden Buck Institute for Research on Aging, lembaga riset independen di California yang fokus pada penyakit terkait penuaan.
Antara Janji dan Realita Ilmiah
NAD, atau nicotinamide adenine dinucleotide, adalah senyawa alami dalam setiap sel tubuh, penting untuk menghasilkan energi dan membantu perbaikan sel melalui protein sirtuin. Seiring bertambahnya usia, kadar NAD menurun. Itulah dasar teori suplemen NAD mengembalikan kadar tersebut agar tubuh tetap bugar. Studi pada hewan menunjukkan hasil menjanjikan: perbaikan DNA, peningkatan metabolisme, dan perlambatan degenerasi saraf. Namun, Dr. Michael Fredericson dari Stanford menegaskan, belum ada uji klinis besar pada manusia yang membuktikan manfaatnya. “Ada potensi besar, tapi riset manusia belum mendukung sepenuhnya,” katanya. Ia menambahkan, hasil pada tikus tidak selalu dapat diterapkan pada manusia. Bahkan, dosis yang digunakan dalam penelitian hewan jauh lebih tinggi daripada yang tersedia di pasaran.
Suplemen NAD yang dijual biasanya berbentuk prekursor NR (nicotinamide riboside) atau NMN (nicotinamide mononucleotide) karena tubuh tidak dapat menyerap NAD murni. Dosis yang direkomendasikan berkisar antara 125 hingga 250 mg per hari. Namun, para pakar memperingatkan bahaya praktik infus NAD yang kini marak di pusat kebugaran. “Infus NAD dapat memicu respons imun berat seperti mual, diare, hingga nyeri dada,” jelas Fredericson. Ia menegaskan bahwa memasukkan NAD langsung ke aliran darah justru membuat tubuh menganggapnya zat asing. Selain itu, dosis tinggi dalam beberapa studi hewan diduga bisa merangsang pertumbuhan tumor. “Risikonya kecil, tapi tidak sepadan,” tambahnya.
Refleksi Harapan dan Kewaspadaan
Di tengah euforia “anti-aging”, banyak orang mencari keajaiban dalam bentuk kapsul. Sebagian pasien Fredericson mengaku merasa lebih bertenaga setelah mengonsumsi NAD, meski efeknya belum pasti. “Bisa jadi karena tidur lebih baik, atau efek sugesti,” ujarnya jujur. Ia sendiri mengonsumsi 250 mg sehari sambil menunggu hasil riset lebih lanjut. Jika nantinya terbukti melindungi otak, katanya, NAD bisa menjadi terobosan besar dalam ilmu penuaan. Namun sampai saat itu tiba, Verdin mengingatkan agar publik tak melupakan “obat mujarab” yang sudah pasti manjur yaitu gaya hidup sehat. “Orang mencari pil ajaib untuk menunda tua. Padahal, olahraga dan pola makan seimbang adalah kuncinya,” katanya. Bagi mereka yang tergoda mencoba NAD, para ahli sepakat untuk lakukan dengan pengetahuan, bukan sekadar ikut tren. Dunia sains masih berproses, dan kebijaksanaanlah yang seharusnya menjadi suplemen utama.

