Perusahaan rintisan asal California, Reflect Orbital, tengah menarik perhatian dunia dengan rencananya memantulkan cahaya matahari dari luar angkasa guna menjaga ladang surya tetap beroperasi di malam hari. Startup yang didukung oleh Sequoia Capital dan miliarder teknologi Baiju Bhatt itu telah mengajukan izin ke Komisi Komunikasi Federal (FCC) AS untuk meluncurkan satelit demonstrasi pada 2026. Proyek ini merupakan langkah awal menuju konstelasi sekitar 4.000 satelit pemantul cahaya yang ditargetkan mengorbit pada 2030. Reflect Orbital mengklaim misinya akan memperpanjang jam operasional energi surya dan membantu transisi menuju energi bersih. Meski banyak pihak menilai rencana itu terlalu ambisius dan berisiko.
Kekhawatiran Ilmuwan dan Dampak Lingkungan
Namun, proyek ini memantik gelombang penolakan dari komunitas astronomi. Anthony Tyson, kepala ilmuwan di Rubin Observatory, memperingatkan bahwa 4.000 satelit reflektif akan “merusak” penelitian astronomi berbasis optik. Ia menegaskan bahwa cahaya secerah bulan purnama dari orbit rendah bisa “membutakan” kamera sensitif di teleskop modern. Survei yang dilakukan American Astronomical Society terhadap lebih dari 1.400 astronom menunjukkan mayoritas khawatir aktivitas mereka akan terganggu. Sementara Reflect Orbital berjanji meminimalkan dampak dengan menghindari area observatorium dan membagikan data orbit. Banyak ilmuwan, seperti Meredith Rawls dari Universitas Washington, menilai upaya mitigasi itu belum meyakinkan. Selain itu, para peneliti ekologi juga menyoroti risiko polusi cahaya terhadap satwa malam. Seperti kelelawar dan serangga. Serta potensi efeknya terhadap kesehatan manusia.
Antara Inovasi Energi dan Etika Antariksa
Di sisi lain, Reflect Orbital menegaskan bahwa setiap peluncuran akan disertai kajian dampak lingkungan dan sosial. Perusahaan mengklaim emisi dari roket peluncur dapat “terimbangi dalam hitungan minggu” oleh tambahan listrik bersih yang dihasilkan. Namun, pengamat energi seperti Grant Hauber dari Institute for Energy Economics and Financial Analysis menilai teknologi baterai dan panel surya di Bumi tetap menjadi opsi lebih efisien dibanding “menjual sinar matahari”. Polemik ini menyoroti dilema antara inovasi energi bersih dan tanggung jawab terhadap langit malam, yang selama ini menjadi laboratorium alami umat manusia. Seperti dikatakan Tyson, “Astronom dapat menunjukkan dampaknya terhadap sains, tapi keputusan kebijakan ada di tangan dunia.”

