Suara tangis, debu, dan reruntuhan menjadi pemandangan sehari-hari di Gaza. Dua tahun sejak serangan besar Israel dimulai pada 7 Oktober 2023, wilayah sempit itu kini menjelma padang puing. Serangan yang disebut sebagai upaya menumpas Hamas telah menewaskan lebih dari 67.000 warga Palestina, mayoritas perempuan dan anak-anak. Melukai hampir 170.000 lainnya. Gaza kini tinggal bayangan dari dirinya sendiri. Seluruh kota luluh lantak, rumah-rumah hancur, dan warganya berpindah tanpa arah. Badan-badan PBB menggambarkan situasi ini sebagai bencana kemanusiaan paling parah di abad ke-21, dengan jutaan jiwa kehilangan tempat tinggal. Israel menolak tuduhan genosida, tetapi dunia akademik dan lembaga HAM internasional telah menyimpulkan bahwa pola serangan dan blokade terhadap warga sipil “memenuhi kriteria kejahatan genosida.”
Sistem Kesehatan Runtuh, Famine Mengintai
Di antara reruntuhan rumah sakit, para dokter berjuang tanpa alat, listrik, atau obat. Dari 36 rumah sakit di Gaza, hanya 14 yang masih sebagian berfungsi. Bed di al-Shifa dan al-Ahli melampaui 300% kapasitas, sementara tenaga medis kelelahan dan sering menjadi sasaran tembakan. Lebih dari 1.700 tenaga kesehatan tewas dalam dua tahun terakhir. Serangan ke fasilitas medis mencapai 654 kali, menurut WHO. Israel berdalih bahwa Hamas bersembunyi di area sipil, namun laporan independen PBB menyebut serangan itu melanggar hukum perang. Pada pertengahan 2025, Israel sempat memberlakukan blokade total selama dua bulan, menutup semua jalur bantuan dengan alasan penyalahgunaan logistik oleh Hamas. Ketika tekanan dunia meningkat, blokade itu dilonggarkan, tetapi kelaparan sudah melanda Gaza City, menewaskan ribuan anak karena kekurangan gizi dan air bersih.
Reruntuhan Peradaban dan Tanggung Jawab Dunia
Dari udara, Gaza tampak seperti hamparan abu. Hampir 92% rumah hancur atau rusak, dan 2,1 juta warga, 95% dari populasi, mengungsi ke tenda-tenda sementara di sepanjang perbatasan selatan. Mereka hidup dengan sanitasi buruk, tanpa air bersih, dan hanya mengandalkan sisa bantuan yang masuk. “Ini bukan sekadar perang, ini penghancuran kehidupan,” ujar James Elder dari UNICEF. Meskipun dunia mulai menoleh ke isu lain, penderitaan Gaza belum berhenti. Banyak korban masih terkubur di bawah puing, dan generasi muda tumbuh tanpa sekolah, rumah, atau harapan. Serangan ini meninggalkan pertanyaan besar bagi dunia: berapa lama lagi penderitaan sebuah bangsa bisa diabaikan atas nama keamanan? Dalam kehancuran yang menyelimuti Gaza, gema kemanusiaan menggantung di udara—mengingatkan bahwa perang tak hanya membunuh tubuh, tetapi juga memadamkan nurani.

