Dalam suasana hujan di Pyongyang, Jumat malam, Korea Utara menggelar parade militer megah untuk menandai 80 tahun berdirinya Partai Buruh yang berkuasa. Ribuan tentara berbaris rapi, sementara deretan rudal balistik antarbenua melintas di hadapan pemimpin Kim Jong-un, disaksikan langsung oleh pejabat tinggi China dan Rusia. Kehadiran mereka memberi isyarat kuat akan dukungan dua negara besar itu terhadap Pyongyang di tengah ketegangan global dengan blok Barat. Parade ini juga menjadi panggung bagi Kim untuk menampilkan rudal antarbenua terbaru bernama Hwasong-20. Diklaim lebih canggih dari pendahulunya. Kim menyampaikan pidato bernada tegas, menyinggung dominasi Barat dan menyebut negaranya siap menghadapi “setiap ancaman eksternal”.
Hwasong-20 dan Pesan Politik di Baliknya
Rudal Hwasong-20, yang belum pernah diuji coba, menjadi simbol ambisi nuklir Korea Utara di bawah kepemimpinan Kim. Dalam parade tersebut, juga ditampilkan drone tempur, tank modern, serta rudal hipersonik. Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, menilai Pyongyang semakin dekat mengembangkan rudal yang mampu mencapai daratan Amerika Serikat. Di sisi lain, Washington terus menuntut pembongkaran total program nuklir Korea Utara secara “verifiable and irreversible”. Namun, Kim menegaskan pihaknya hanya bersedia berdialog jika tekanan terhadap senjata nuklir dihentikan. Sementara itu, perubahan sikap Beijing dan Moskow mulai terlihat. Rusia secara terbuka menyebut isu denuklirisasi “sudah selesai”. Sedangkan China menghapus istilah itu dalam pernyataan resmi terbaru mereka.
Poros Baru di Asia Timur dan Makna Strategisnya
Pemandangan pejabat tinggi China dan Rusia berdiri di samping Kim bukan sekadar simbolik. Ini mencerminkan pergeseran geopolitik signifikan di Asia Timur. Korea Utara kini diposisikan bukan lagi sebagai negara satelit, tetapi mitra strategis dalam menghadapi dominasi Barat. Rusia baru-baru ini menghidupkan kembali perjanjian aliansi era Perang Dingin, sementara Kim membantu Moskow dengan pasokan senjata di tengah perang Ukraina. China pun memperlihatkan pengakuan serupa dengan mengundang Kim ke Beijing bulan lalu untuk menghadiri parade militer bersama Presiden Xi Jinping dan Vladimir Putin. Seperti dikatakan analis Seong-Hyon Lee, parade ini bukan sekadar pertunjukan militer, melainkan deklarasi politik bahwa Pyongyang kini bagian dari poros kekuatan anti-Barat yang semakin solid. Pesan Kim jelas: Korea Utara ingin diakui, dihormati, dan diperhitungkan di panggung dunia.

