Nada bicara Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa berubah serius ketika menyinggung fenomena saham gorengan yang kembali ramai di pasar modal. Dalam sebuah wawancara, ia menegaskan pentingnya kewaspadaan investor terhadap saham-saham yang bergerak tidak wajar, terutama yang melonjak tanpa didukung fundamental kuat. “Kalau harga naik terlalu cepat, tapi kinerja perusahaan tidak mendukung, itu tanda-tanda saham gorengan,” ujarnya tegas. Purbaya menyebut praktik ini sering kali digerakkan oleh segelintir pihak yang memanfaatkan euforia pasar untuk meraup keuntungan instan. Ia menambahkan, pemerintah dan otoritas pasar harus memperketat pengawasan karena dampaknya bisa mengguncang kepercayaan publik terhadap bursa.
Kondisi Pasar yang Rentan
Isu saham gorengan juga mendapat mantan perhatian Presiden Joko Widodo yang beberapa waktu lalu menyinggung pentingnya integritas pelaku pasar. Jokowi menilai, pertumbuhan pasar modal yang sehat harus dibangun atas dasar kepercayaan dan transparansi. Pernyataan itu muncul di tengah lonjakan transaksi sejumlah saham berkapitalisasi kecil yang harganya menanjak tanpa alasan jelas terkait skandal yang dilakukan oleh konglomerat India Gautam Adani pada 2023. Analis menilai, kondisi ini menunjukkan masih lemahnya literasi keuangan sebagian investor ritel. Mereka kerap tergoda janji cuan cepat tanpa menelaah laporan keuangan atau prospek bisnis emiten. Di sisi lain, pelaku pasar berpengalaman memperingatkan bahwa pola pergerakan tidak normal. Seperti kenaikan harga tajam disertai volume besar tanpa rilis berita penting adalah ciri khas saham gorengan yang sedang “dimainkan”.
Membangun Pasar yang Lebih Sehat dan Cerdas
Fenomena saham gorengan bukan hal baru, namun dampaknya terhadap kepercayaan publik selalu signifikan. Banyak investor pemula akhirnya kapok setelah harga saham anjlok tajam begitu euforia mereda. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) telah berulang kali mengeluarkan peringatan, termasuk melakukan suspensi atas saham-saham yang terindikasi tidak wajar. Purbaya mengingatkan, investor harus disiplin menilai fundamental perusahaan. Perhatikan laba, arus kas, dan tata kelola. “Jangan hanya ikut-ikutan grup atau rumor di media sosial,” ujarnya. Para ekonom sepakat, edukasi publik adalah kunci. Selama masyarakat memahami risiko dan mekanisme pasar, ruang bagi manipulasi harga akan semakin sempit. Dengan langkah kolektif antara regulator, pelaku pasar, dan masyarakat, pasar modal Indonesia diharapkan tumbuh lebih transparan, sehat, dan berkelanjutan.

