Penelitian terbaru memberi harapan baru bagi jutaan pengguna antidepresan yang kerap menghadapi efek samping pada fungsi seksual. Studi awal dari tim ilmuwan di Copenhagen University Hospital menemukan bahwa aktivitas otak tertentu, diukur melalui tes elektroensefalogram (EEG), mampu memprediksi kemungkinan gangguan orgasme akibat penggunaan obat escitalopram. Salah satu jenis SSRI (Selective Serotonin Reuptake Inhibitors). Penelitian yang dipresentasikan di Kongres ECNP ke-38 di Amsterdam ini menunjukkan tingkat akurasi hingga 87% dalam memprediksi disfungsi seksual. Jika temuan ini terkonfirmasi melalui studi lebih besar, metode ini bisa membantu dokter memilih jenis obat yang lebih sesuai bagi tiap pasien. Meminimalkan risiko efek samping yang selama ini sulit diprediksi.
Mekanisme Tes dan Tanggapan Para Ahli
Tes noninvasif ini memanfaatkan biomarker bernama Loudness Dependence of Auditory Evoked Potentials (LDAEP). Sebuah tes respons listrik otak terhadap suara. LDAEP berkaitan erat dengan kadar serotonin. Neurotransmitter yang mengatur suasana hati dan gairah seksual. Kadar serotonin yang terlalu tinggi, seperti akibat konsumsi SSRI, kerap menghambat aliran darah dan kontraksi otot yang diperlukan untuk orgasme. Dalam uji pada 90 pasien depresi, peneliti menemukan korelasi kuat antara nilai LDAEP rendah (yang berarti aktivitas serotonin tinggi) dan gangguan orgasme setelah delapan minggu terapi. Meski hasilnya menjanjikan, beberapa pakar seperti Dr. Sameer Jauhar dari Imperial College London mengingatkan bahwa ukuran sampel kecil bisa memengaruhi akurasi. Ia menilai uji lanjutan dan studi terkontrol plasebo diperlukan sebelum metode ini diadopsi luas.
Implikasi Sosial dan Harapan ke Depan
Gangguan fungsi seksual akibat antidepresan telah dilaporkan sejak 1960 dan dialami 25% hingga 80% pengguna obat tersebut. Namun hingga kini, belum ada cara memastikan siapa yang berisiko sebelum terapi dimulai. Penemuan ini bukan sekadar langkah medis tapi juga sosial. Efek samping semacam itu kerap menurunkan kualitas hidup dan kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan. Dengan pendekatan berbasis otak, para ahli berharap pengobatan depresi di masa depan dapat lebih personal, efektif, dan manusiawi. Membantu pasien pulih tanpa harus mengorbankan kesejahteraan seksual dan emosional mereka. Jika riset lanjutan membuktikan validitasnya, tes EEG ini bisa menjadi tonggak baru dalam psikiatri modern.

