Cedera, sekecil apa pun, sebaiknya tidak diremehkan. Dokter Spesialis Neurologi sekaligus Direktur DRI Clinic, dr. Irca Ahyar, Sp.N., DFIDN, menegaskan bahwa langkah pertama ketika mengalami cedera adalah mengompres area yang terkena. “Kalau belum bisa ke dokter, paling tidak dikompres dulu,” ujarnya dalam acara DRI CONNECT: Media & Community Day di Bintaro, Tangerang Selatan, Kamis (16/10/2025). Menurutnya, baik air panas maupun air dingin sama-sama bisa digunakan karena ujungnya adalah memberikan efek heat. Namun, kompres air dingin disarankan untuk membantu mendeteksi panas berlebih di area cedera. Tindakan ini membantu meredakan pembengkakan dan mengurangi rasa nyeri sebelum mendapatkan pertolongan medis lanjutan.
Hindari Gerakan Berlebihan, Jaga Area Tetap Diam
Setelah dikompres, langkah penting berikutnya adalah tidak menggerakkan bagian tubuh yang cedera. “Jangan diapa-apain dulu. Jangan diurut, jangan dipijat. Makin sedikit digerakkan makin bagus,” tegas dr. Irca. Imobilisasi diperlukan agar tidak memperparah kondisi, terutama jika terjadi dislokasi atau kerusakan jaringan. Dokter juga mengingatkan bahwa banyak orang justru memperburuk keadaan karena terlalu cepat menggerakkan bagian yang cedera. Prinsip dasarnya, biarkan tubuh tenang dulu agar peradangan tidak meluas. Setelah rasa sakit mulai berkurang, barulah penderita sebaiknya memeriksakan diri ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang sesuai, termasuk pemeriksaan sistem saraf jika diperlukan.
Keseimbangan Saraf, Kunci Pemulihan dan Pencegahan Cedera
Dalam penjelasannya, dr. Irca menekankan bahwa banyak cedera tidak kunjung pulih karena terapi hanya berfokus pada otot, bukan saraf. Padahal, sistem saraf merupakan pusat kontrol seluruh fungsi tubuh. “Pasien sering datang dengan keluhan yang sama, padahal sudah fisioterapi, stretching, atau istirahat cukup. Itu tandanya ada sinyal dari sistem saraf yang belum seimbang,” ujarnya.
Cedera juga bukan hanya monopoli atlet. Pekerja kantoran, guru, atau ibu rumah tangga pun bisa mengalaminya karena postur tubuh yang tidak seimbang atau aktivitas berulang. Duduk terlalu lama di depan komputer, misalnya, dapat menekan saraf dan memicu nyeri punggung atau kesemutan. Karena itu, pemeriksaan saraf secara rutin sangat disarankan, terutama bagi mereka yang aktif bergerak. “Pemeriksaan saraf bukan hanya untuk orang sakit, tapi bagian dari pencegahan,” tutur dr. Irca.
Melalui edukasi ini, masyarakat diharapkan lebih sadar bahwa cedera bukan sekadar urusan otot, tetapi juga cerminan keseimbangan tubuh secara menyeluruh. Langkah sederhana seperti kompres dan istirahat bisa menjadi penentu perbedaan antara pemulihan cepat dan cedera kronis.

