Sebuah penelitian ilmiah terbaru mengubah cara kita memahami konsep tidur dan pola mimpi manusia. Studi berjudul DREAM: The Dream EEG and Mentation Database yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications menemukan bahwa otak tidak sepenuhnya berhenti bekerja saat seseorang tidur nyenyak. Selama ini menurut masyarakat, mimpi hanya diasosiasikan dengan fase tidur REM, yaitu fase ketika aktivitas otak mirip dengan kondisi sadar. Namun, penelitian ini menunjukkan bahwa mimpi juga dapat terjadi dalam fase NREM yang sebelumnya dianggap “tenang”. Temuan tersebut lantas menegaskan bahwa otak memiliki tingkat kesadaran tersembunyi bahkan ketika tubuh berada dalam kondisi istirahat paling dalam.
Data Besar dan Bukti Ilmiah
Riset internasional ini dipimpin oleh tim dari Monash University, Australia, dengan partisipasi lebih dari 500 sukarelawan dari 13 negara. Mereka menjalani total 2.600 kali proses kebangkitan tidur untuk memantau aktivitas otak menggunakan teknologi EEG canggih. Hasilnya menunjukkan 85 persen mimpi memang terjadi pada fase REM, namun sekitar 40 hingga 60 persen juga muncul pada fase NREM. Dengan bantuan kecerdasan buatan, peneliti bisa memetakan kapan seseorang bermimpi meski tanpa kesadaran penuh. Menurut laporan tim, beberapa area otak tetap aktif dan menunjukkan pola khas yang menandakan adanya proses berpikir samar. Ini membuktikan bahwa tidur dalam pun tidak berarti otak berhenti berfungsi.
Makna di Balik Tidur dan Kesadaran
Temuan ini membuka jalan baru dalam studi kesadaran dan kesehatan mental manusia. Aktivitas otak saat tidur memperlihatkan bahwa kesadaran manusia bersifat kontinu dan tidak benar-benar padam. Para ahli berpendapat, mimpi yang muncul di fase tidur dalam membantu menstabilkan emosi, mengatur stres, serta memperkuat memori jangka panjang yang dimiliki manusia. Temuan ini juga berpotensi dimanfaatkan untuk memahami gangguan tidur. Seperti trauma psikologis hingga kondisi seperti depresi dan PTSD. Dengan kata lain, tidur bukan sekadar waktu untuk memulihkan energi fisik. Tidur juga dapat menjadi ruang bagi otak untuk tetap “bekerja dalam diam”, menata ulang pengalaman dan menjaga keseimbangan antara pikiran sadar serta bawah sadar manusia.

