Fenomena pria yang terlihat lebih manja ketika sakit bukan hanya gurauan di rumah tangga. Ada penjelasan ilmiah yang mendasarinya. Beberapa riset medis menunjukkan bahwa perbedaan hormon dan sistem kekebalan tubuh antara pria dan wanita berpengaruh besar terhadap cara keduanya merespons penyakit. Kondisi ini sering disebut man flu, istilah populer yang menggambarkan gejala penyakit pada pria terasa lebih berat. Menurut temuan British Medical Journal, kadar testosteron yang tinggi pada pria dapat menurunkan efektivitas sistem imun. Ini membuat pria lebih mudah terserang flu dan lebih sensitif terhadap rasa nyeri. Selain itu, secara biologis, pria memiliki respon inflamasi yang berbeda dibanding wanita, yang menyebabkan proses penyembuhan cenderung lebih lambat.
Faktor Sosial dan Budaya
Ahli kesehatan keluarga dari Cleveland Clinic, Dr. Charles Garven, menambahkan bahwa aspek sosial dan budaya turut memperkuat perilaku ini. Sejak masa kecil, banyak pria dibesarkan dengan konsep bahwa mereka harus kuat dan tidak mudah mengeluh. Namun ketika sakit, dinding ketahanan emosional itu runtuh. Dalam kondisi rentan, mereka justru mencari perhatian dan dukungan dari orang terdekat, terutama pasangan. “Ada aspek psikologis yang kuat di balik respons ini. Pria merasa aman mengekspresikan kelemahan hanya ketika mereka sakit,” ujar Garven. Studi dari Talker Research juga mendukung hal ini, menemukan bahwa lebih dari separuh pria cenderung mengeluh lebih sering dibanding wanita ketika merasa tidak sehat. Hal ini memperlihatkan bahwa rasa sakit juga berkaitan dengan kebutuhan emosional, bukan sekadar fisik.
Keseimbangan Antara Biologi dan Empati
Fenomena pria yang menjadi “bayi” saat sakit bukanlah tanda kelemahan, melainkan reaksi alami tubuh dan pikiran terhadap stres biologis. Ketika daya tahan tubuh menurun, kebutuhan akan perhatian dan kenyamanan meningkat. Dalam konteks hubungan, pemahaman ini penting agar tidak menimbulkan salah persepsi. Pasangan sebaiknya tidak menertawakan atau mengabaikan sikap tersebut, melainkan memahami bahwa empati dapat mempercepat pemulihan. Garven menegaskan, perhatian kecil seperti mendengarkan keluhan, menyiapkan makanan hangat, atau sekadar menemani, dapat memberi efek positif terhadap proses penyembuhan. Jadi, ketika pria tampak manja saat sakit, mungkin itu bukan drama, melainkan refleksi alami dari keseimbangan antara biologi dan kebutuhan emosional manusia.

