Depresi kini menjadi ancaman serius bagi Generasi Z. Penelitian terbaru dari University College London mengungkap bahwa tingkat depresi di kalangan Gen Z dua pertiga lebih tinggi dibandingkan milenial. Para ahli menyebut, paparan media sosial, tekanan untuk tampil sempurna, serta ketidakstabilan ekonomi menjadi pemicu utama. “Anak muda masa kini tumbuh di tengah ekspektasi tinggi dan lingkungan digital yang sangat kompetitif,” ungkap peneliti utama. Mereka juga kerap membandingkan diri dengan orang lain secara tidak sehat. Kecenderungan itu membuat mereka kehilangan rasa percaya diri. Dalam jangka panjang, hal tersebut memicu stres, gangguan tidur, hingga depresi berat yang mengganggu produktivitas.
Lingkungan Digital dan Perubahan Pola Hidup
Selain tekanan sosial, perubahan gaya hidup juga memperburuk kondisi mental Gen Z. Studi menemukan, kurangnya interaksi langsung, kebiasaan begadang karena gawai, serta konsumsi konten negatif turut memperburuk keadaan. Di Indonesia, tren ini tampak jelas di kalangan pelajar dan mahasiswa yang semakin menarik diri dari lingkungan sosial nyata. Pandemi Covid-19 disebut mempercepat perubahan ini. “Mereka kehilangan koneksi emosional yang sehat, dan itu berimbas pada meningkatnya kecemasan,” kata seorang psikolog klinis. Banyak di antara mereka merasa kesepian meski terhubung secara digital setiap waktu. Pemerintah dan lembaga pendidikan pun diimbau memperkuat program konseling, literasi digital, dan ruang ekspresi positif agar remaja memiliki wadah yang aman untuk berbagi.
Pentingnya Dukungan Sosial dan Kesadaran Diri
Masalah kesehatan mental tidak bisa diselesaikan dengan sekadar kampanye media saja. Diperlukan dukungan sosial nyata dari keluarga, sekolah, dan komunitas sekitar. Para ahli menekankan pentingnya membangun budaya terbuka dalam membicarakan tekanan hidup. Gen Z juga perlu belajar mengelola stres, menyeimbangkan waktu layar, serta mengenali tanda awal gangguan mental. “Kita perlu menormalkan mencari bantuan profesional,” kata peneliti. Orang tua diharapkan lebih peka terhadap perubahan perilaku anak-anak mereka. Kesadaran kolektif masyarakat menjadi kunci agar generasi ini tumbuh tangguh, sehat secara emosional, dan mampu menghadapi tekanan zaman tanpa kehilangan jati diri.

