Pengepungan kota El-Fasher, ibu kota Darfur Utara, menjadi salah satu episode paling kelam dalam perang Sudan yang telah berlangsung lebih dari setahun. Warga yang selamat menceritakan bagaimana pasukan Rapid Support Forces (RSF) melakukan penyerangan brutal terhadap penduduk sipil, termasuk pembunuhan massal, pemerkosaan, dan penjarahan. Kota yang sebelumnya menjadi tempat berlindung bagi ribuan pengungsi kini berubah menjadi ladang kehancuran. Seorang saksi mata bernama Aisha menggambarkan kekacauan saat RSF memasuki permukiman “Mereka menembak siapa pun yang bergerak. Kami berlari tanpa tahu ke mana.” Rumah-rumah dibakar, fasilitas medis dirusak, dan bantuan kemanusiaan terhenti total karena pertempuran sengit yang memutus jalur logistik.
Kekejaman Sistematis dan Diamnya Dunia
Laporan dari organisasi kemanusiaan menyebut tindakan RSF di El-Fasher bukan sekadar serangan militer, melainkan pembersihan etnis terhadap kelompok tertentu. Warga dari suku Zaghawa dan Fur menjadi sasaran utama. Banyak yang melarikan diri ke perbatasan Chad dengan kondisi mengenaskan. Para relawan medis mengaku kewalahan menghadapi korban luka tembak dan trauma psikis berat. RSF, yang sebelumnya merupakan milisi Janjaweed pada masa konflik Darfur 2003, diduga melakukan kekerasan sistematis dengan impunitas tinggi. PBB memperkirakan lebih dari 15.000 orang telah tewas di seluruh wilayah sejak perang meletus April 2023, dan jutaan lainnya terusir dari rumahnya. Dunia internasional dinilai terlalu lamban merespons, meski bukti pelanggaran HAM berat terus bermunculan.
Seruan Keadilan dan Harapan di Tengah Puing
Para korban berharap suara mereka didengar dan dunia tidak lagi menutup mata. “Kami hanya ingin hidup tanpa rasa takut,” kata Aisha dengan nada getir. Pemerhati hak asasi manusia menyerukan agar Dewan Keamanan PBB menekan kedua pihak untuk gencatan senjata dan membuka akses kemanusiaan. Banyak pihak menilai hanya intervensi diplomatik serius yang bisa menghentikan penderitaan ini. Meski El-Fasher kini hampir rata dengan tanah, semangat bertahan warga Sudan tetap menyala. Di tengah reruntuhan dan kehilangan, mereka terus berharap suatu hari keadilan benar-benar hadir dan dunia internasional berani bertindak melawan kebiadaban yang masih berlangsung di Darfur.

