Penelitian menunjukkan makanan ultra-proses (UPF) meningkatkan risiko penyakit kronis global. Para ahli di The Lancet menyebut diet modern kini lebih banyak mengandalkan makanan murah dan olahan industri daripada makanan segar. UPF, seperti minuman bersoda, keripik, kue kering, sup instan, dan roti supermarket, mengandung aditif, pengawet, pewarna, dan pemanis buatan. Berdasarkan 104 studi jangka panjang, makanan ini terkait risiko lebih tinggi terhadap 12 kondisi kesehatan, termasuk diabetes tipe 2, penyakit jantung, ginjal, depresi, dan kematian prematur. Prof. Carlos Monteiro dari Universitas Sao Paulo mengatakan korporasi mempromosikan UPF sambil menolak kebijakan kesehatan publik.
Seruan Tindakan Kesehatan Publik Global
Para ahli mendesak pemerintah segera mengenakan pajak dan peringatan pada UPF untuk mendukung makanan sehat. Dr. Phillip Baker membandingkan tantangan ini dengan upaya melawan industri tembakau. Ulasan mencatat bahwa uji klinis langsung terbatas, tetapi menunda tindakan bisa memperburuk kesehatan global. Survei menunjukkan UPF menyumbang lebih dari setengah kalori di AS dan Inggris, sementara Australia, Meksiko, Jepang, dan Chili di atas 25%. Konsumsi lebih rendah tercatat di Brasil, Korea Selatan, Indonesia, dan Italia. Kritikus Nova mengatakan klasifikasi ini bisa keliru karena beberapa makanan tetap sehat.
Menyeimbangkan Bukti dan Perspektif Industri
Beberapa peneliti memperingatkan korelasi UPF dan penyakit belum membuktikan sebab-akibat. Prof. Kevin McConway menekankan perlunya penelitian lebih lanjut. Prof. Jules Griffin menyoroti manfaat beberapa makanan olahan. Food and Drink Federation mengatakan banyak UPF, seperti sayuran beku dan roti gandum utuh, tetap bisa diet seimbang. Pengurangan gula dan garam sudah diterapkan. Saran diet Inggris mendorong konsumsi buah, sayur, serat, dan membatasi gula, lemak, garam. Ahli menekankan mengurangi UPF adalah langkah bijak untuk kesehatan global.

