Sore yang mendung di Sidoarjo berubah mencekam ketika kabar seorang santri berusia 13 tahun, Syahlendra Haical, masih terjebak di balik reruntuhan Pondok Pesantren Al Khoziny. Selama dua hari penuh, tubuhnya tertindih puing beton, menunggu pertolongan yang tak kunjung datang. Dari celah sempit, suara petugas terus memanggil namanya, memastikan bocah itu masih hidup. “Sabar ya, Nak, ini usaha,” ucap Aziz, salah seorang tim rescue yang merayap di antara bongkahan bangunan. Haical menjawab lirih, “Iya, semuanya sakit.” Momen komunikasi singkat itu menjadi penguat bagi petugas untuk tidak menyerah. Setelah 48 jam, pada Rabu (1/10) sore, Haical akhirnya berhasil ditarik keluar dengan tandu, meski dalam kondisi lemas dan hampir tak berdaya.
Perjuangan Panjang Tim Penyelamat
Proses penyelamatan santri ini bukan perkara mudah. Tim gabungan dari Basarnas, DPKP Kota Surabaya, TNI, hingga relawan harus menggali terowongan tanah untuk bisa mencapai lokasi korban. Mereka sempat berkomunikasi juga dengan Yusuf, santri lain berusia 16 tahun, yang berhasil dievakuasi lebih dahulu pada Selasa dini hari. Posisi tubuh kedua korban yang terjepit membuat operasi berlangsung sangat lambat. Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, menyebut keberhasilan menemukan titik-titik korban tak lepas dari doa masyarakat. “Ada 15 titik yang bisa kita deteksi, dan alhamdulillah dua korban telah terevakuasi,” katanya. Saat berhasil diangkat dari reruntuhan, Haical memang tampak lemah, namun masih mampu memberi respons dengan kedipan mata, tanda hidup yang melegakan semua orang di lokasi.
Harapan Baru Setelah Tragedi
Haical segera dibawa ke RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo untuk mendapat perawatan intensif. Direktur rumah sakit, dr Atok Irawan, memastikan kondisi santri itu stabil. “Hanya lecet, tidak ada patah tulang. Semuanya normal, insyaAllah aman,” ujarnya. Meski begitu, Haical tetap diobservasi karena tubuhnya lemas akibat dehidrasi. Tragedi runtuhnya gedung tiga lantai yang masih dalam tahap pembangunan ini menyisakan duka mendalam. Lebih dari seratus orang menjadi korban, puluhan di antaranya luka-luka, dan beberapa meninggal dunia. Di balik kesedihan, kisah penyelamatan Haical menjadi simbol harapan. Ia bukan sekadar seorang anak yang berhasil bertahan, tetapi juga gambaran nyata kegigihan tim penyelamat, solidaritas warga, dan kekuatan doa di tengah musibah. Tragedi ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya standar keselamatan dalam pembangunan fasilitas pendidikan agar peristiwa serupa tak kembali terjadi.

