Kebakaran yang melanda Kilang Dumai milik PT Kilang Pertamina Internasional pada Rabu (1/10/2025) kembali membuka mata publik terhadap kerentanan aset vital migas Indonesia. Ketua Komite Investasi Aspermigas, Moshe Rizal, menegaskan bahwa insiden berulang di Dumai, Balikpapan, hingga Cilacap bukan semata kelalaian operator. Melainkan cerminan infrastruktur tua yang rawan bocor dan berisiko tinggi. Menurutnya, implementasi standar health, safety, and environment (HSE) serta inspeksi independen perlu diperkuat. Agar kebakaran tidak menjadi siklus yang terus berulang. Peristiwa ini menjadi alarm keras. Terlebih ketika kilang berperan sebagai urat nadi pasokan energi dalam negeri.
Defisit Kapasitas Kilang dan Tantangan Investasi
Indonesia saat ini membutuhkan sekitar 1,6 juta barel BBM per hari. Sementara kapasitas kilang hanya mampu memproses sekitar 800 ribu barel. Kesenjangan ini membuat impor BBM tetap dominan. Moshe menilai pembangunan kilang baru mutlak dilakukan. Meski kompleksitas dan risiko biaya sering membuat proyek molor seperti yang dialami RDMP Balikpapan. Ia menekankan Pertamina tidak bisa berjalan sendiri. Kolaborasi dengan investor global harus diperkuat agar target percepatan hilirisasi tercapai. Pemerintah melalui Kementerian ESDM juga menegaskan kilang berperan strategis. Tidak hanya untuk stabilitas pasokan energi tetapi juga dalam menjaga harga dan distribusi BBM. Rencana pembangunan 17 kilang modular berkapasitas 1 juta barel per hari dengan investasi US$8 miliar digadang sebagai langkah konkret menekan impor. Selain itu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa pihaknya akan terus mengawal percepatan proyek, sementara Dirjen Migas Laode Sulaiman memastikan produksi tetap berjalan meski insiden terjadi.
Refleksi Ketahanan Energi Nasional
Kebakaran Dumai menjadi pengingat keras di tengah misi besar Presiden Prabowo Subianto memperkuat ketahanan energi nasional. Keppres Nomor 1 Tahun 2025 tentang Satgas Percepatan Hilirisasi menegaskan pentingnya peningkatan produksi migas, batubara, hingga energi baru terbarukan. Namun, tanpa pembenahan serius terhadap aspek keselamatan dan infrastruktur, rencana tersebut akan tersandera oleh peristiwa berulang yang merugikan. Publik berharap momentum ini mendorong pemerintah dan Pertamina berkomitmen lebih nyata, baik dalam investasi, perawatan, maupun inovasi energi. Sebab, energi adalah fondasi pertumbuhan ekonomi, dan setiap kilang yang terbakar sejatinya bukan hanya kerugian korporasi, melainkan ancaman langsung terhadap masa depan bangsa. Lebih jauh, insiden ini juga menjadi refleksi bahwa kemandirian energi tidak bisa hanya diukur dari jumlah kilang baru, melainkan dari sejauh mana manajemen risiko dijalankan. Transparansi, disiplin operasional, serta keberanian mengadopsi teknologi modern menjadi kunci agar tragedi serupa tidak lagi menjadi berita berulang.

