Pagi di Tahura Ngurah Rai, Kuta, seharusnya penuh dengan kicau burung dan desir angin yang menenangkan. Namun, suasana berubah mencekam saat warga menemukan jasad seorang pemuda tergantung di bawah rindangnya pepohonan, Senin (7/10). Ia adalah SMN, 21 tahun, asal Tulungagung, Jawa Timur. Korban terbaru dari serangkaian kasus bunuh diri yang menghantui Bali sepanjang 2025. Menurut data Polresta Denpasar, hingga Oktober tahun ini sudah terjadi 12 kasus bunuh diri, lima di antaranya melibatkan warga negara asing. Dalam suasana yang mestinya sarat ketenangan, Pulau Dewata justru sedang menanggung luka yang tak kasat mata. Polisi menyebut, kasus semacam ini bukan sekadar persoalan individu, tapi hasil dari tekanan sosial, lingkungan, hingga krisis psikologis yang kian kompleks.
Tekanan Sosial dan Isolasi Budaya:
Kasat Reskrim Polresta Denpasar menegaskan bahwa fenomena bunuh diri tidak bisa dilihat dari satu sisi. “Ada faktor biologis, psikologis, genetik, budaya, hingga sosial yang saling terkait,” ujarnya. Di antara korban, tercatat warga dari Ukraina, Rusia, Kanada, dan Amerika, menunjukkan bahwa tekanan mental tidak mengenal batas negara. Para ahli menilai, banyak WNA yang mengalami kesulitan beradaptasi dengan budaya lokal, apalagi setelah masa pandemi yang memunculkan isolasi sosial dan tekanan ekonomi. Wakil Rektor Universitas Ngurah Rai menambahkan, lemahnya dukungan komunitas menjadi faktor pemicu yang sering diabaikan. “Saat seseorang kehilangan jejaring sosial dan tak punya ruang berbagi, risiko bunuh diri meningkat tajam,” katanya. Polisi mengimbau masyarakat agar peka terhadap orang di sekitar. Bila ada yang menunjukkan gelagat aneh, menarik diri, atau berbicara soal keputusasaan, segera laporkan kepada pihak berwenang atau tenaga profesional. Tindakan cepat bisa menyelamatkan nyawa.
Menumbuhkan Empati, Membangun Ruang Aman Bersama
Kasus-kasus tragis ini menegaskan bahwa kesehatan mental adalah urusan bersama, bukan hanya tanggung jawab keluarga atau lembaga kesehatan. Di Bali, struktur sosial seperti banjar dan desa adat sebenarnya memiliki potensi besar dalam mendeteksi serta mendampingi warganya yang mengalami tekanan. Jika dibekali literasi psikologis, mereka bisa menjadi garda terdepan dalam mencegah tragedi. Di sisi lain, pemerintah daerah bersama kampus dan komunitas perlu memperluas akses layanan konseling, menyediakan hotline krisis, serta menghadirkan edukasi publik yang mudah dipahami. Media juga berperan penting. Bukan sekadar melaporkan peristiwa, tapi menyebarkan harapan dan solusi. Sebab, di balik angka dan berita, ada jiwa-jiwa yang menjerit dalam diam. Kita semua harus belajar mendengar suara-suara sunyi itu, sebelum terlambat. Karena menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan menjaga hidup itu sendiri.

