Anya Firestone, pemandu wisata asal New York yang menetap di Paris, masih terkejut. Ia tak menyangka kunjungan rutinnya ke Galeri Apollo menjadi yang terakhir sebelum pencurian terjadi. Delapan perhiasan abad ke-19 hilang hanya dalam tujuh menit di siang bolong. Koleksi itu selalu menjadi sorotan utama dalam tur privat yang ia pandu. “Perhiasan itu cara saya menjelaskan perjalanan Prancis dari monarki ke republik,” ujarnya lirih. Salah satu favoritnya, bros berbentuk pita dengan 2.438 berlian, kini ikut lenyap. Bros itu dibuat untuk Permaisuri Eugénie, istri Napoleon III, dengan detail yang luar biasa halus. Firestone merasa kehilangan bagian penting dari kisah yang selalu ia ceritakan dengan semangat. Ia menyebut momen itu seperti menyaksikan sejarah runtuh di depan mata sendiri.
Nilai Fantastis dan Luka Budaya
Kejadian ini bukan sekadar kehilangan benda mahal, melainkan luka mendalam bagi dunia seni Prancis. Jaksa Paris menyebut nilai koleksi itu mencapai €88 juta atau sekitar Rp1,5 triliun. Delapan perhiasan itu dahulu dilelang pada 1887 sebagai simbol berakhirnya monarki Prancis. Louvre membelinya kembali pada 2008 untuk mengembalikan martabat sejarah nasional. Firestone, yang telah memandu lebih dari seratus tur di galeri itu, kembali ke lokasi keesokan harinya. Ia mendapati museum ditutup dengan penjagaan ketat dan anjing pelacak berpatroli. “Rasanya seperti film, tapi ini nyata,” katanya dengan tatapan kosong. Ia mengenakan trench coat krem Chloé dan sepatu Dior bertabur permata, menyebutnya gaya “détective-core.” Gaya itu menjadi caranya bertahan di tengah kehilangan yang tak terbayangkan.
Harapan dari Jejak yang Hilang
Meski sedih, Firestone menolak membiarkan duka menguasai hatinya. Ia percaya setiap kehilangan menyimpan harapan tersembunyi. “Saya suka berpikir permata itu masih bisa ditemukan,” ucapnya optimistis. Ia membandingkan pencurian ini dengan hilangnya Mona Lisa pada 1911. Kala itu, ribuan orang datang melihat ruang kosong yang ditinggalkan lukisan itu. Firestone yakin hal sama akan terjadi pada Galeri Apollo. “Mereka akan datang bukan hanya untuk melihat keindahan,” katanya, “tetapi untuk mengenang kehilangan.” Bagi Firestone, tragedi ini menambah lapisan baru dalam kisah Louvre. “Kehilangan ini,” ujarnya pelan, “telah menjadi bagian dari cerita mereka sendiri.”

