Deputi Gubernur Bank Indonesia Aida S. Budiman menyatakan keheranannya atas lambannya bank menurunkan bunga kredit. Ia menilai langkah BI memangkas suku bunga acuan sebesar 150 basis poin belum efektif. Dampaknya, bunga simpanan hanya turun 29 basis poin dan bunga kredit 15 basis poin. Aida menegaskan bank seharusnya lebih cepat menyesuaikan bunga kredit sesuai arah kebijakan moneter. Ia menyoroti perlunya peningkatan transmisi kebijakan agar penurunan suku bunga terasa di sektor riil. “Bayangkan 150 bps baru turun 29 bps di simpanan, apalagi kredit hanya 15 bps,” ujarnya. Ia menilai kondisi ini menunjukkan kebijakan BI belum terserap optimal oleh sektor perbankan nasional.
Pasar Uang Sudah Bergerak Lebih Cepat
Aida menjelaskan perbedaan jelas antara kecepatan pasar uang dan sektor perbankan dalam merespons kebijakan. Di pasar uang, suku bunga instrumen seperti INDONIA turun hingga 204 basis poin. Sedangkan SRBI tenor 12 bulan bahkan anjlok 257 basis poin ke level 4,7 persen. “Yield SBN tenor dua tahun turun 218 bps, sedangkan tenor sepuluh tahun baru 132 bps,” katanya. Ia menilai pasar keuangan merespons cepat, tapi perbankan belum menurunkan bunga kredit dengan seimbang. Kondisi ini berpotensi menahan pertumbuhan pinjaman dan memperlambat pemulihan ekonomi nasional. BI berharap penyesuaian cepat dari perbankan agar kebijakan pelonggaran moneter berdampak luas.
BI Siapkan Insentif Likuiditas Dorong Kredit Murah
Sebagai langkah konkret, BI menyiapkan kebijakan insentif likuiditas makro prudensial atau KLM mulai 1 Desember 2025. Kebijakan ini dirancang untuk memberi dorongan bank agar dapat lebih cepat menyalurkan kredit dengan bunga lebih rendah. Insentif KLM terdiri atas dua mekanisme, yaitu lending channel dan interest rate channel. Lending channel memberi ruang tambahan kredit hingga 5 persen dari dana pihak ketiga. Sementara interest rate channel memberi tambahan 0,5 persen dari DPK bagi bank yang responsif. Total insentif mencapai 5,5 persen dari DPK untuk bank yang menurunkan bunga cepat. “KLM bersifat forward looking dan berbasis kecepatan bank menyesuaikan bunga kredit,” ujar Aida. BI berharap kebijakan ini mempercepat transmisi moneter dan menurunkan biaya kredit bagi masyarakat.

