Keresahan akan menumpuknya sampah organik di Desa Adat Cemenggaon, Sukawati, Gianyar, mendorong I Wayan Balik Mustiana, Ketua Badan Pengelola Sampah desa setempat, merintis sistem pengelolaan mandiri berbasis kearifan lokal yang dinamakan teba modern. Berangkat dari persoalan klasik. Sampah yang bercampur tanpa pemilahan. Ia mengembangkan metode pengolahan sejak 2013 hingga resmi dijalankan pada 2020. Teba modern dibangun di lahan kosong berbentuk lubang beton berdiameter 80 sentimeter dengan kedalaman 2 meter. Lengkap dengan saluran pembuangan. Dengan prinsip “dari dapur kembali ke dapur”, konsep ini menghidupkan kembali tradisi lama orang Bali yang memanfaatkan halaman belakang (teba) untuk membuang dan mengurai sampah organik.
Perjalanan Panjang dan Hasil Nyata
Perubahan pola pikir warga tidak terjadi seketika. Masyarakat Bali terbiasa dengan sistem “angkut-buang” ke TPA sehingga butuh waktu belasan tahun untuk membiasakan pemilahan mandiri. Kini Desa Adat Cemenggaon memiliki 790 teba modern yang tersebar di 350 rumah tangga, sekolah, dan pura. Hasilnya cukup signifikan. 60–70 persen sampah organik diolah di teba. 20 persen masuk bank sampah dan hanya 10 persen residu yang masih menuju TPA. Rata-rata, satu rumah tangga menghasilkan 4 kilogram sampah per hari, yang jika dikalikan 350 rumah tangga, setara 1,4 ton per hari. Sebelum sistem ini berjalan, hampir 48 ton sampah per bulan harus diangkut ke TPA
Refleksi Sosial dan Tantangan
Keberhasilan teba modern tidak lepas dari dukungan desa adat yang membuat aturan resmi melalui perarem, musyawarah khas Bali yang melahirkan kesepakatan kolektif. Namun, tantangan tetap ada. Sejumlah aktivis menilai fasilitas untuk sampah anorganik dan residu masih terbatas, dan edukasi masyarakat soal pemilahan perlu ditingkatkan. Meski begitu, teba modern menjadi bukti bahwa kearifan lokal mampu menjawab masalah global: pengelolaan sampah. Ia menegaskan pentingnya partisipasi masyarakat, kolaborasi desa adat, dan kesadaran lingkungan sebagai jalan keluar dari darurat sampah yang dihadapi Bali, sekaligus inspirasi bagi daerah lain.

