Dunia olahraga dikejutkan kabar duka dari Inggris. Richard “Ricky” Hatton, legenda tinju yang namanya harum di era 2000-an, ditemukan meninggal pada Minggu (14/9) di Hyde, Greater Manchester, dalam usia 46 tahun. Hatton bukan hanya ikon ring, tetapi juga sosok yang dicintai komunitas. Klub sepak bola Manchester City yang ia dukung sepanjang hidup, menggelar penghormatan lewat tepuk tangan satu menit sebelum derbi melawan Manchester United di Stadion Etihad. “Ricky adalah salah satu pendukung City yang paling dicintai. Dia akan selalu dikenang karena karier tinju cemerlangnya,” tulis pernyataan resmi klub di media sosial.
Karier Gemilang dan Jejak Prestasi
Kepolisian Greater Manchester memastikan tidak ada tanda mencurigakan terkait wafatnya Hatton, meski penyelidikan masih berjalan. Sang petinju menorehkan catatan mentereng. Empat gelar juara dunia dari IBF, WBA, dan IBO. Dengan 45 kemenangan dari 48 laga, 32 di antaranya lewat KO. Perjalanan kariernya tak lepas dari duel besar menghadapi Floyd Mayweather Jr dan Manny Pacquiao, yang juga menjadi titik balik pensiunnya pada 2011. Meski sempat comeback pada 2012, kekalahan dari Vyacheslav Senchenko membuatnya benar-benar gantung sarung tinju. Ucapan belasungkawa mengalir deras, termasuk dari Amir Khan, Manny Pacquiao, Conor McGregor hingga Jamie Carragher, menandakan betapa luasnya pengaruh Hatton lintas cabang olahraga.
Duka Kolektif dan Kenangan Abadi
Kepergian Hatton meninggalkan luka kolektif di dunia olahraga. Ia bukan sekadar atlet, melainkan simbol perjuangan dan kegigihan, terutama bagi para penggemar tinju Inggris. Dari ring tinju hingga tribun Stadion Etihad, nama Ricky Hatton menyatu dengan semangat rakyat. Dukungan, penghormatan, dan kenangan akan selalu melekat—menjadikannya lebih dari sekadar juara dunia, melainkan sosok inspiratif yang menyalakan api keberanian. Dunia boleh kehilangan sang “Hitman”, tetapi warisan semangatnya akan terus hidup di setiap arena olahraga, mengingatkan bahwa perjuangan sejati tak pernah berakhir di gong terakhir.

