CEO Danantara Indonesia, Rosan Perkasa Roeslani, membuka wacana besar di dunia pembiayaan nasional. Ia menyebut ada peluang untuk menaikkan plafon Kredit Usaha Rakyat (KUR) khusus sektor perumahan dari Rp130 triliun tahun ini menjadi Rp250 triliun pada 2026 mendatang. Pernyataan itu disampaikan dalam sebuah forum yang menyoroti masa depan pembiayaan perumahan nasional. Rosan menekankan bahwa langkah ini bukan sekadar angka. Namun menjadi strategi untuk membuka akses lebih luas bagi masyarakat agar memiliki rumah layak huni dengan skema pembiayaan yang lebih terjangkau.
Pemerintah dan Realitas Pasar
Rencana ambisius ini tak lepas dari dukungan penuh pemerintah serta kolaborasi dengan perbankan pelat merah. Termasuk Bank Tabungan Negara (BTN) dan bank-bank Himbara lainnya. Menurut Rosan, pasar perumahan masih menunjukkan permintaan tinggi, sementara tantangan utama terletak pada keterjangkauan kredit. Dengan skema KUR perumahan, subsidi bunga tetap menjadi instrumen vital agar masyarakat berpenghasilan rendah hingga menengah bisa mengakses rumah pertama mereka. Kenaikan plafon menjadi Rp250 triliun dinilai sejalan dengan program prioritas Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat sektor perumahan rakyat sebagai bagian dari warisan pembangunan bangsa. “Kami percaya, dengan gotong royong semua pihak, target itu realistis untuk dicapai,” ujar Rosan dalam paparannya.
Makna Sosial dan Tantangan ke Depan
Jika terealisasi, lonjakan plafon KUR perumahan hingga dua kali lipat akan membawa dampak sosial yang signifikan. Bukan hanya membantu jutaan keluarga Indonesia memiliki hunian layak. Melainkan juga menggerakkan sektor konstruksi, membuka lapangan kerja dan memperkuat stabilitas ekonomi domestik. Namun keberhasilan program ini tetap bergantung pada disiplin implementasi, pengawasan kredit. Serta kemampuan pemerintah menjaga keseimbangan subsidi bunga agar tidak membebani APBN. Di sisi lain, masyarakat juga dituntut lebih cermat dalam memanfaatkan fasilitas kredit murah ini. Bagi Rosan, KUR perumahan bukan sekadar instrumen finansial, melainkan wujud nyata dari gotong royong nasional untuk menghadirkan rumah yang menjadi simbol kesejahteraan dan harapan bagi generasi mendatang.

