LCGC Terpuruk, Impor Mobil Listrik Tembus 61 Persen

Mobil LCGC

LCGC atau Pasar kendaraan hemat bahan bakar dan berharga terjangkau di Indonesia terus menunjukkan pelemahan sepanjang Agustus 2025. Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), distribusi LCGC dari pabrik ke diler hanya menyentuh 8.270 unit, turun dibandingkan Juli 2025 yang mencapai 8.923 unit. Secara kumulatif, penjualan LCGC sejak Januari hingga Agustus 2025 baru 81.256 unit, dengan kontribusi 16,2 persen terhadap total pasar nasional sebanyak 500.951 unit. Angka ini jauh tertinggal dari periode yang sama tahun lalu, ketika penjualan LCGC mencapai 120.145 unit atau 21,4 persen pangsa pasar.

Baca juga : Tren Baru Otomotif Indonesia, 3 Merek China Masuk Mobil Terlaris

Gelombang Mobil Impor

Sebaliknya, mobil listrik impor justru mencatat lonjakan signifikan. Data Gaikindo menyebut, impor kendaraan listrik utuh (CBU) pada Agustus 2025 menembus 7.947 unit dari total impor 12.924 unit. Pangsa mobil listrik impor mencapai 61 persen. Padahal pada Agustus 2024, jumlahnya hanya 2.908 unit dengan porsi 34 persen. Ironisnya, program LCGC yang digagas sejak 2013 untuk meningkatkan daya beli masyarakat kelas menengah dan memperkuat industri lokal, kini kian terdesak. Hal ini muncul akibat derasnya arus kendaraan listrik impor yang mendapat insentif bebas bea masuk serta PPnBM. Sementara itu,mobil LCGC memiliki tingkat kandungan lokal (TKDN) lebih dari 95 persen.

Dilema Industri Otomotif

Fenomena ini menimbulkan dilema besar. Di satu sisi, pemerintah gencar mendorong percepatan adopsi kendaraan listrik demi target ramah lingkungan. Namun di sisi lain, industri otomotif lokal justru tertekan karena produk dalam negeri seperti LCGC kehilangan daya saing. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan serius tentang arah kebijakan otomotif nasional. Apakah Indonesia mampu menjaga keseimbangan antara keberlanjutan lingkungan dan keberlangsungan industri lokal. Bagi konsumen, pilihan semakin terbuka, tetapi bagi produsen lokal, tantangannya kian berat untuk bertahan di tengah derasnya gelombang kendaraan impor.