23 Tahun Tragedi Bom Bali, Masyarakat dan Keluarga Korban Kenang Momen Penuh Duka di Kuta

bom bali

Suasana haru menyelimuti peringatan 23 tahun tragedi Bom Bali yang digelar di Ground Zero Memorial, Legian, Kuta, Sabtu (12/10/2025). Puluhan keluarga korban, warga lokal, dan wisatawan mancanegara berkumpul untuk mengenang peristiwa kelam yang merenggut 202 nyawa pada 12 Oktober 2002 silam.

Upacara peringatan berlangsung khidmat dimulai dengan doa bersama lintas agama, dilanjutkan dengan peletakan karangan bunga dan penyalaan lilin. Isak tangis pecah saat nama-nama korban dibacakan satu per satu. Beberapa warga asing yang turut hadir tampak tak kuasa menahan air mata, mengenang kerabat mereka yang menjadi korban dalam tragedi yang mengguncang dunia pariwisata Bali tersebut.

“Setiap tahun kami datang ke sini untuk memastikan dunia tidak melupakan apa yang terjadi,” tutur Philippa Harrison, salah satu keluarga korban asal Australia, dengan suara bergetar. Ia mengaku masih berharap agar perdamaian dan toleransi tetap menjadi nilai yang dijaga di Bali.

Refleksi dan Harapan Perdamaian

Pemerintah Provinsi Bali bersama perwakilan Australia, Inggris, dan Jepang turut hadir dalam upacara tersebut. Gubernur Bali dalam sambutannya menegaskan pentingnya mengenang tragedi ini bukan untuk membuka luka lama, tetapi sebagai pengingat agar terorisme tak lagi berakar di tanah air.

“Bali telah bangkit, namun luka di hati keluarga korban akan selalu ada. Tugas kita memastikan perdamaian dan toleransi tetap menjadi pondasi hidup bersama,” ujarnya.

Sementara itu, perwakilan Kedutaan Besar Australia menyampaikan apresiasi atas dukungan masyarakat Bali yang terus menjaga hubungan baik kedua negara. Ia menyebut, tragedi Bom Bali bukan hanya duka bagi Indonesia, tetapi juga bagi dunia. Hingga kini, kerja sama bilateral dalam bidang keamanan dan kontra-terorisme terus diperkuat sebagai bentuk penghormatan bagi para korban.

Bali, Simbol Ketangguhan dan Toleransi

Dua dekade lebih pasca tragedi, Bali telah menjelma menjadi simbol ketangguhan dan perdamaian. Kawasan Kuta yang dahulu luluh lantak kini kembali hidup. Menjelma menjadi ruang refleksi bagi banyak orang tentang pentingnya saling menghormati di tengah perbedaan. Meski waktu telah berlalu, peringatan tahunan ini terus diadakan untuk meneguhkan komitmen bahwa kekerasan dan kebencian tidak pernah menjadi jawaban. Masyarakat Bali percaya, semangat kebersamaan dan kasih sayang mampu menyembuhkan luka yang ditinggalkan oleh tragedi kemanusiaan itu. “Bom Bali mungkin telah meluluhlantakkan bangunan, tapi tidak pernah menghancurkan semangat cinta dan damai masyarakatnya,” ujar seorang warga lokal yang turut hadir dalam acara.