Gung Adhistya, Pemuda Bali di Balik Viralnya Animasi “Ikan Mas Tur Dedari” yang Sarat Makna Budaya

gung adhistya

Dunia maya tengah dihebohkan oleh video animasi berjudul “Ikan Mas Tur Dedari”, karya Gung Adhistya, seorang mahasiswa asal Gianyar, Bali. Video berdurasi beberapa menit itu viral di berbagai platform media sosial karena memadukan kisah rakyat Bali dengan sentuhan visual ala Studio Ghibli. Dalam animasi itu, Gung menampilkan kisah magis penuh simbol tentang alam, spiritualitas, dan keindahan budaya Bali. “Awalnya saya hanya ingin membuat proyek pribadi untuk tugas kampus, tapi ternyata responsnya luar biasa,” ujar Gung Adhistya saat diwawancarai. Ia menuturkan bahwa ide animasinya terinspirasi dari Sanghyang Dedari, sebuah tarian sakral yang menggambarkan turunnya bidadari ke bumi. Dengan latar musik etnik lembut dan sinematografi halus, karya tersebut berhasil memikat jutaan penonton di TikTok dan YouTube hanya dalam beberapa hari.

Proses Kreatif yang Sarat Nilai Budaya

Gung Adhistya, mahasiswa Sekolah Tinggi Multi Media (MMTC), mengaku mengerjakan animasi itu seorang diri selama tiga bulan. Ia menggunakan perangkat sederhana dan belajar otodidak dari film-film karya Makoto Shinkai dan Hayao Miyazaki. Namun, alih-alih meniru gaya luar, ia memilih memasukkan unsur lokal yang kuat. “Kalau Studio Ghibli bisa mengangkat budaya Jepang, kenapa kita tidak bisa menonjolkan Bali dengan keindahannya sendiri?” katanya. Dalam proses kreatifnya, Gung juga mendapat dukungan dari komunitas Bonbin Studio di Yogyakarta yang membantunya di tahap penyuntingan akhir. Penggunaan teknik pencahayaan alami dan warna pastel lembut menjadi ciri khas yang membuat penonton merasa tenang sekaligus tersentuh. Karya ini disebut-sebut membuka peluang baru bagi animator muda Indonesia untuk menampilkan identitas budaya daerahnya melalui medium digital. Banyak penonton mengaku kagum dengan kedalaman pesan moral dalam animasi itu tentang keseimbangan antara manusia dan alam.

Inspirasi bagi Generasi Muda Bali

Keberhasilan “Ikan Mas Tur Dedari” menjadi viral bukan hanya karena keindahan visualnya, tetapi juga karena pesan spiritual dan filosofi lokal yang universal. Cerita yang menggambarkan hubungan manusia dengan makhluk gaib di alam Bali ini dianggap sebagai bentuk pelestarian budaya di era digital. Pemerhati budaya Bali menilai karya Gung sebagai bukti bahwa tradisi bisa dihidupkan kembali melalui medium modern. “Generasi muda seperti Gung Adhistya membuktikan bahwa teknologi dan budaya bisa berjalan seiring,” ujar seorang akademisi seni di Denpasar. Kini, Gung berencana mengembangkan proyek animasi serupa bertajuk “Durma lan Rajapala”, yang juga terinspirasi dari kisah rakyat Bali. Ia berharap lebih banyak anak muda berani menggali cerita lokal dan menjadikannya bagian dari narasi global. “Kalau bukan kita yang bercerita tentang budaya sendiri, siapa lagi?” tutupnya dengan senyum.