Indonesia baru saja dinobatkan sebagai negara yang paling “mencintai tidur” dalam survei IKEA Sleep Uncovered 2025. Dari 57 negara, responden Indonesia paling banyak menilai tidur sebagai aktivitas penting dan menyenangkan. Fenomena ini menunjukkan bahwa bagi masyarakat kita, tidur bukan sekadar rutinitas biologis, melainkan bagian dari keseimbangan hidup. Namun ironinya, di balik kecintaan itu, mayoritas orang Indonesia justru kekurangan waktu tidur. Data dari World Sleep Congress 2025 menyebut rata-rata waktu tidur masyarakat hanya sekitar 6 jam 36 menit per malam, di bawah standar ideal tujuh hingga delapan jam. Situasi ini menjadi paradoks menarik, dimana sebuah negeri yang paling menghargai tidur, tapi paling sering kehilangannya.
Kesibukan, Stres, dan Budaya Begadang Jadi Pemicu
Kurangnya waktu tidur di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari gaya hidup modern. Banyak warga kota bekerja hingga larut, terjebak kemacetan, dan masih membawa urusan pekerjaan ke rumah. Di sisi lain, tekanan ekonomi dan stres turut memperpendek jam istirahat. Tak jarang, waktu tidur dikorbankan demi produktivitas semu. Gadget juga memperburuk keadaan: notifikasi ponsel, tontonan daring, dan media sosial membuat pikiran tetap aktif meski tubuh lelah. Survei YouGov 2024 menunjukkan, lebih dari separuh pengguna internet di Indonesia masih menatap layar kurang dari satu jam sebelum tidur. Budaya begadang pun sering dianggap lumrah, bahkan kadang menjadi simbol rajin atau produktif. Padahal, para ahli tidur mengingatkan, kurang tidur berdampak langsung pada konsentrasi, daya tahan tubuh, dan kesehatan mental.
Saat Tidur Menjadi Cermin Keseimbangan Hidup
Fenomena ini menyentuh hal yang lebih dalam: bagaimana masyarakat memaknai keseimbangan antara kerja dan istirahat. Di banyak daerah pedesaan, ritme hidup masih mengikuti alam, tidur lebih awal dan bangun dengan matahari. Sebaliknya, di kota besar, waktu istirahat kerap dianggap kemewahan. Padahal, kualitas tidur berkorelasi dengan produktivitas dan kebahagiaan. Dalam konteks budaya, tidur bukanlah kemalasan, melainkan bagian dari kearifan tubuh untuk menjaga harmoni. Karena itu, penting bagi pemerintah dan tempat kerja untuk mendorong budaya istirahat sehat melalui jam kerja manusiawi, edukasi tidur berkualitas, dan lingkungan yang mendukung ketenangan malam hari. Akhirnya, tidur bukan hanya kebutuhan pribadi, melainkan juga ukuran kesehatan sosial sebuah bangsa. Negeri yang benar-benar mencintai tidur adalah negeri yang memberi waktu cukup bagi rakyatnya untuk beristirahat dengan damai.

