Kasus HIV di Bali Mulai Sasar Kelompok Remaja

Kasus HIV Bali

Kasus HIV di Bali menunjukkan tren peningkatan yang mengkhawatirkan. Lelaki Seks Lelaki (LSL) masih menjadi kelompok dengan penularan tertinggi, namun kini virus juga mulai menyasar kelompok usia muda. Dewa Nyoman Suyetna, Pengelola Program HIV di Klinik Utama WM Medika, Yayasan Kerti Praja (YKP), mengungkapkan bahwa selama tiga bulan terakhir kasus baru terus bermunculan. “Pada Juni ada 15 kasus, Juli 11, dan Agustus naik lagi jadi 15. Dari jumlah itu, rata-rata 10 orang adalah LSL,” ujarnya dalam kegiatan Advokasi Media: Media Tanpa Stigma untuk Ending AIDS 2030 di Denpasar, Sabtu (11/10/2025). Ia menambahkan, beberapa penderita juga mengidap Penyakit Menular Seksual (PMS) seperti sifilis, bahkan ada yang masih pelajar. “Ada tiga pelajar positif HIV, dua di antaranya LSL,” katanya. Minimnya edukasi seks di sekolah dan pergeseran perilaku ke platform daring membuat penjangkauan komunitas berisiko semakin sulit dilakukan.

Pendidikan Seks Masuk Kurikulum Sekolah

Lonjakan kasus di usia muda mendorong tenaga kesehatan dan aktivis untuk mendesak pemerintah agar pendidikan seks masuk ke kurikulum sekolah. Ketua Forum Peduli AIDS (FPA) Bali, dr. Oka Negara, menegaskan bahwa pengetahuan menjadi langkah awal untuk mengubah perilaku berisiko. “Kalau bisa dikomitmenkan lewat kurikulum, itu akan jauh lebih efektif,” ujarnya. Menurutnya, materi tentang kesehatan reproduksi dan pencegahan HIV bisa disesuaikan dengan jenjang pendidikan. Untuk SMP dan SMA, bisa diintegrasikan ke pelajaran biologi atau sosiologi. Sementara di SD, guru dapat memberikan pemahaman sederhana tentang kekerasan seksual, pola hidup sehat, dan pencegahan bullying. “Edukasi tentang pacaran sehat dan kekerasan seksual sama pentingnya dengan pembelajaran akademik,” tambahnya. Ia menilai kolaborasi antara Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, dan puskesmas menjadi kunci untuk menekan stigma terhadap orang dengan HIV (ODHIV).

Komitmen Bali Menuju Ending AIDS 2030

Pemerintah Indonesia menargetkan Ending AIDS 2030, memastikan seluruh ODHIV terdeteksi, diobati, dan virusnya tersupresi. Target global 95-95-95 menjadi acuan: 95 persen ODHIV tahu statusnya, 95 persen mendapat terapi, dan 95 persen dari mereka berhasil menekan virus hingga tak terdeteksi. Bali termasuk provinsi paling aktif menjalankan komitmen ini, melalui Perda Penanggulangan HIV/AIDS dan Rencana Aksi Daerah 2024–2029. “Bali termasuk yang paling peduli dibanding daerah lain,” kata dr. Oka. Klinik WM Medika mencatat 2.400 pasien pernah mengakses ARV, 1.520 masih aktif, 317 berhenti berobat, dan 40 meninggal dunia. Salah satu pasien, sebut saja Mawar, mengaku masih menyembunyikan statusnya karena takut dijauhi. “Takut dijauhi pasangan,” ujarnya lirih. Program pencegahan HIV terus digerakkan oleh YKP, AHF Indonesia, UNFPA, dan KPA Denpasar melalui inisiatif seperti Girls Act Indonesia yang telah menjangkau 1.500 remaja.