Jakarta bergema oleh pernyataan mantan penyidik KPK, Yudi Purnomo Harahap. Ia menegaskan penelusuran dugaan korupsi proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (Whoosh) sebaiknya dimulai dari hilir, bukan langsung dari perencanaan yang melibatkan banyak pihak. “Jangan penggal kepala naga dulu,” ujarnya dalam dialog Rakyat Bersuara di iNews. Menurutnya, langkah terburu-buru menuding pihak tertentu, termasuk pihak China, bisa menghambat proses hukum karena kerja sama lintas negara tidak sederhana. Yudi menambahkan, pihak asing hanya bisa diperiksa jika ditemukan bukti pemufakatan jahat. “Kalau China tidak berkenan, agak sulit, enggak bisa diusut,” katanya, menekankan pentingnya pendekatan sistematis sebelum menarik kesimpulan hukum.
Menelusuri Indikasi dan Celah Korupsi Proyek Raksasa
Yudi menjelaskan, proyek besar seperti Whoosh melibatkan rantai panjang keputusan, mulai dari pembiayaan, pengadaan, hingga pelaksanaan teknis. Karena itu, penelusuran harus fokus pada area yang paling rawan terjadi penyimpangan dana publik. Ia menyebut tahapan pelaksanaan sering kali menyimpan celah korupsi yang tidak langsung terlihat dari atas. “Kita lihat dulu bagian hilirnya, baru ke atas kalau memang ada benang merahnya,” ujar Yudi. Ia mengingatkan publik agar tidak terjebak pada opini, sebab investigasi korupsi memerlukan bukti kuat dan prosedur hukum yang ketat. Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya sorotan publik terhadap dugaan kerugian negara pada proyek yang dikabarkan menelan biaya besar tersebut. Sejumlah analis ekonomi bahkan menyebut potensi kerugian mencapai Rp4,1 triliun.
Pelajaran bagi Transparansi Nasional
Pernyataan Yudi menjadi refleksi penting tentang bagaimana negara menegakkan hukum dalam proyek lintas batas. Keterlibatan investor asing tak boleh dijadikan alasan untuk melemahkan transparansi publik. Pemerintah, lembaga hukum, dan masyarakat perlu memastikan proyek strategis tetap diawasi dengan prinsip akuntabilitas. Dalam konteks ini, ucapan Yudi bukan sekadar teknis penyelidikan, tetapi juga seruan agar publik bersabar dan cermat dalam menilai isu korupsi besar. Ia menutup pandangannya dengan pesan agar penegakan hukum tidak kehilangan arah hanya karena tekanan opini. “Proses hukum itu maraton, bukan sprint,” ujarnya menegaskan. Pesan tersebut menggema sebagai pengingat bahwa integritas penyidikan adalah kunci menjaga kepercayaan publik di tengah proyek ambisius seperti Whoosh.

