Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi, menegaskan bahwa nama Projo bukanlah singkatan dari “Pro Jokowi” seperti yang selama ini diyakini publik. Dalam Kongres III Projo di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Sabtu (1/11/2025), ia menjelaskan bahwa “Projo” berasal dari bahasa Sanskerta dan Jawa Kawi. Dalam bahasa Sanskerta, Projo berarti “negeri”, sedangkan dalam bahasa Jawa Kawi bermakna “rakyat”. Budi menuturkan, anggapan bahwa Projo berarti “Pro Jokowi” hanyalah sebutan populer dari media yang dianggap lebih mudah diucapkan. “Projo memang enggak ada kepanjangan resminya. Media saja yang menyingkat Pro Jokowi karena lebih mudah dilafalkan,” ujarnya.
Perubahan Logo dan Identitas Relawan
Dalam kesempatan itu, Budi Arie juga mengungkap rencana perubahan logo organisasi. Menurutnya, langkah ini perlu dilakukan agar simbol Projo tidak terkesan mengkultuskan individu tertentu. Saat ini, logo Projo menampilkan siluet wajah Presiden Joko Widodo dalam lingkaran putih dengan warna dasar hitam dan merah. “Logo Projo akan kita ubah supaya tidak terkesan kultus individu,” kata Budi. Ia menegaskan, perubahan tersebut bukan sekadar kosmetik visual, melainkan bagian dari upaya memperkuat jati diri Projo sebagai gerakan rakyat. Pernyataan ini disampaikan di tengah perbincangan tentang arah baru organisasi relawan pasca dua periode kepemimpinan Jokowi.
Asal-Usul dan Peran Projo dalam Politik Nasional
Projo dibentuk pada 2013 sebagai jaringan relawan yang mendukung Joko Widodo dalam Pilpres 2014. Organisasi ini lahir dari semangat masyarakat sipil yang ingin membawa perubahan lewat kepemimpinan baru. Budi Arie, yang saat itu merupakan kader PDI Perjuangan, berperan besar dalam pendirian dan konsolidasi gerakan. Seiring berjalannya waktu, Projo berkembang menjadi salah satu relawan terbesar dan paling berpengaruh dalam dua kali kemenangan Jokowi di Pilpres. Kini, menjelang berakhirnya masa kepemimpinan Jokowi, Projo menghadapi tantangan baru: mempertahankan eksistensi sebagai gerakan rakyat tanpa harus bergantung pada sosok tertentu. Seperti kata Budi, “Projo bukan tentang siapa yang didukung, tapi tentang keberpihakan pada rakyat dan negeri.”

