Tim maritim Malaysia memperluas pencarian di Laut Andaman sejak Senin pagi. Sebuah perahu pengungsi Rohingya terbalik di perbatasan Thailand-Malaysia. Kapal kayu itu membawa sekitar 70 penumpang dari kamp pengungsi Bangladesh. Sedikitnya 11 korban ditemukan meninggal di lokasi kejadian. Puluhan lainnya masih hilang dan dicari petugas penyelamat gabungan. Arus laut kuat menyulitkan operasi yang terus dilakukan tanpa henti. Pencarian diperluas hingga radius 20 mil laut dari Pulau Langkawi. Petugas menggunakan kapal cepat, helikopter, dan bantuan nelayan lokal. “Kami berharap dapat menemukan korban selamat sesegera mungkin,” ujar pejabat maritim Malaysia. Operasi penyelamatan melibatkan koordinasi lintas negara antara Malaysia dan Thailand.
Duka dan Harapan yang Pupus
Para pengungsi Rohingya berangkat dari Cox’s Bazar menuju Malaysia dengan perahu kayu kecil. Mereka meninggalkan kamp padat, berharap kehidupan yang lebih aman. Namun perjalanan panjang itu berubah menjadi tragedi di tengah badai besar. Gelombang tinggi menggulung perahu hingga terbalik di malam gelap. Sebagian penumpang sempat bertahan berjam-jam di atas serpihan kapal. Para penyintas kini dirawat di rumah sakit Kedah dalam kondisi lemah. Polisi melaporkan mayoritas korban adalah perempuan dan anak-anak. Beberapa korban belum teridentifikasi karena kondisi tubuh yang rusak parah. “Mereka mencari hidup, bukan kematian,” kata seorang relawan kemanusiaan. Suasana duka menyelimuti pantai tempat mayat korban pertama ditemukan.
Refleksi atas Krisis Kemanusiaan
Tragedi ini menggambarkan keputusasaan komunitas Rohingya yang terusir dari tanah kelahirannya. Sejak 2017, kekerasan di Rakhine membuat mereka melarikan diri melalui laut. Ribuan orang menempuh perjalanan berbahaya menuju Asia Tenggara setiap tahun. Banyak kapal tenggelam tanpa pernah ditemukan oleh otoritas setempat. Lembaga HAM mendesak negara ASEAN memperkuat misi penyelamatan pengungsi laut. Malaysia diminta memberi perlindungan dan akses kemanusiaan bagi penyintas. Thailand menegaskan kesiapan membantu pencarian melalui patroli gabungan laut. Dunia internasional juga diimbau untuk menekan Myanmar menghentikan diskriminasi sistematis. Tragedi ini menjadi peringatan bahwa keadilan belum hadir bagi etnis Rohingya. Di balik ombak laut Andaman, tersimpan kisah penderitaan manusia tanpa kewarganegaraan.

