Di tengah tekanan pariwisata dan perubahan ekologi yang kian terasa di Bali, Komunitas Film Sarad menyiapkan sebuah karya dokumenter yang menempatkan air sebagai pusat narasi budaya. Film berjudul “Nirtagama: Tirtha dan Ekologi Kebudayaan Bali” digarap oleh sutradara Anak Agung Ngurah Bagus Kesuma Yudha. Film inimengangkat praktik pemuliaan air di Desa Adat Guwang, Gianyar.
Komunitas Film Sarad yang berbasis di Denpasar dikenal sebagai wadah kreatif bagi para seniman dan filmmaker muda Bali. Komunitas dengan anggota terbatas ini konsisten mengembangkan produksi sinema bernuansa budaya serta pelestarian nilai lokal. Melalui Nirtagama, mereka menegaskan kembali posisi air sebagai sumber spiritualitas dan tumpuan keseimbangan hidup masyarakat Bali.
Ruang Sakral yang Tetap Dijaga
Film ini melihat air bukan semata elemen alam, tetapi bagian dari struktur keyakinan dan cara hidup masyarakat Bali. Dalam tradisi Hindu Bali, air dipandang sebagai tirtha, sarana penyucian dan simbol hubungan manusia dengan semesta. Pemaknaan ini tetap hidup di Desa Adat Guwang, tempat film ini mengambil latar utama.
Di Guwang, warga masih memulai rangkaian upacara dengan ritual Mendak Tirtha. Perjalanan sejauh lebih dari satu kilometer menuju sumber air suci yang dijadikan bagian utama dalam ritual desa. Sistem subak yang mereka pertahankan juga menunjukkan bagaimana air dikelola secara adil dan penuh etika. Tidak hanya sebagai sumber pertanian tetapi sebagai penjaga harmoni sosial. Film Nirtagama merekam praktik-praktik tersebut secara observasional dan reflektif. Menghadirkannya bukan sebagai romantisasi masa lalu, tetapi sebagai pengetahuan budaya yang masih relevan.
Membaca Krisis Bali dari Perspektif Budaya
Selain menampilkan kekuatan tradisi, film ini juga menyorot paradoks yang dialami Bali. Modernisasi yang berlangsung cepat menyebabkan penurunan kualitas dan ketersediaan air. Debit air tanah melemah, intrusi air laut meningkat, dan alur subak banyak terganggu. Dalam situasi itu, pemaknaan air sebagai komoditas semakin menggeser nilai-nilai sakral yang dulu dijunjung tinggi.
Menurut Agung Yudha, film ini tidak hanya mendokumentasikan praktik budaya, tetapi mengangkat pertanyaan yang lebih besar mengenai arah spiritualitas dan kelestarian lingkungan di Bali. “Air adalah bagian dari identitas Bali. Ketika nilai itu hilang, kita bukan hanya kehilangan sumber daya, tetapi kehilangan panduan hidup,” ujarnya dalam keterangan tertulis.
Melalui kontras antara desa yang menjaga nilai-nilai leluhur dan Bali modern yang tengah berjuang memulihkan keseimbangan ekologis, Nirtagama menghadirkan renungan tentang bagaimana pembangunan harus berjalan beriringan dengan pelestarian budaya.
Arsip Visual untuk Generasi Mendatang
Nirtagama dirancang menjadi arsip visual yang dapat digunakan untuk pendidikan publik. Film ini juga diarahkan menjadi rujukan penting dalam upaya pemajuan kebudayaan, terutama yang berkaitan dengan pelestarian sumber daya air sebagai warisan takbenda.
Dengan pendekatan visual yang kuat, film ini diharapkan dapat memperluas pemahaman tentang pentingnya menjaga ekosistem air. Proses produksi yang melibatkan masyarakat lokal juga memperkuat posisi film sebagai medium pemberdayaan komunitas.
Komunitas Film Sarad berencana menayangkan dokumenter ini melalui festival film, forum budaya, dan kanal digital agar dapat diakses secara luas. Penyebaran ini diharapkan dapat membuka ruang diskusi baru mengenai keberlanjutan ekologi Bali dan pentingnya kembali memahami air sebagai bagian dari kebudayaan dan bukan sekadar sumber ekonomi. Film ini mendapatkan pendanaan penuh dari Bantuan Pemerintah Fasilitas Pemajuan Kebudayaan Tahun 2025.

