Banjir Bali Terparah dalam 10 Tahun

banjir bali

Air bercampur lumpur menyapu jalan-jalan Denpasar hingga Kuta, menenggelamkan motor, kios, dan rumah warga. Rabu dini hari (10/9), hujan deras tanpa henti mengguyur Bali, memicu banjir terparah dalam sepuluh tahun terakhir. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan korban jiwa bertambah menjadi 16 orang, sementara satu lainnya masih hilang. Di Pasar Kumbasari, Denpasar, pedagang terpaksa meninggalkan barang dagangan karena air merangkak naik hingga setinggi pinggang. Di Kota Denpasar ada 43 titik, tapi yang terbesar di Kumbasari dan Jalan Pura Demak. Sementara di Gianyar, warga mendorong sepeda motor melewati genangan yang menutup akses jalan. Cerita Tasha, pendatang asal Jakarta yang baru dua tahun tinggal di Denpasar, menggambarkan kepanikan warga. “Air masuk tengah malam, orang-orang kaget karena katanya daerah sini bebas banjir. Parah banget banjirnya,” katanya dengan wajah masih pucat .

Faktor Pemicu Bencana dan Kerugian

Kepala BPBD Bali, Gede Agung Teja Bhusana Yadnya, menyebut curah hujan ekstrem sejak Selasa (8/9) menjadi pemicu utama, ditambah saluran air yang tak mampu menampung debit air, sampah yang menumpuk, serta pembangunan yang menggerus daerah resapan . Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Denpasar mengonfirmasi adanya gelombang ekuatorial Rossby yang memperkuat pertumbuhan awan hujan di Bali . Kondisi ini diperparah dengan kelembapan tinggi hingga lapisan atmosfer. Hal ini senada dengan yang diinformasikan oleh Gubernur Bali, Wayan Koster.  Namun menurut pantauan dilapangan, selain faktor hujan ada juga pengaruh sampah sebagai  biang masalah dan juga gabungan faktor lingkungan dan tata ruang yang kurang terkendali. Di Karangasem, longsor dan tembok roboh menambah daftar kerusakan. Kerugian material diperkirakan miliaran rupiah.

Ancaman Ekologis

Banjir ini menjadi pengingat keras bagi Bali, yang kerap dipandang sebagai surga pariwisata, ternyata rapuh di hadapan bencana ekologis. Pada hari raya Pagerwesi, yang semestinya dirayakan penuh syukur, banyak warga justru kehilangan rumah, waktu, bahkan anggota keluarga . Para ahli mengingatkan, tanpa reboisasi dan pembenahan tata ruang, risiko banjir serupa akan terus menghantui. “Cari persoalannya kenapa aliran sungai terhenti. Apakah daerah resapannya hilang atau berkurang? Jangan sampai sempadan sungai malah dibangun seperti yang sudah sudah,” ujar seorang pengamat lingkungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *