Ballon d’Or 2025 kembali menyisakan cerita panas. Real Madrid secara tegas memilih untuk tidak mengirim perwakilannya ke gala prestisius tersebut. Keputusan ini bukan kali pertama; musim lalu pun El Real melakukan hal serupa. Sumber Marca menyebut langkah ini dipicu ketegangan panjang dengan penyelenggara, France Football. Madrid kecewa karena merasa pemainnya, Vinicius Junior, layak meraih Ballon d’Or 2024 setelah membawa klub menjuarai Liga Spanyol dan Liga Champions. Namun, penghargaan justru jatuh ke tangan Rodri yang berjaya bersama Spanyol di Euro 2024. Bahkan nama Dani Carvajal pun dinilai lebih pantas, tetapi tetap luput dari penghargaan. Bagi manajemen Madrid, ini bukti kurangnya respek terhadap kontribusi klub, sehingga boikot kembali menjadi pilihan.
PSG Tersandung Jadwal yang Bentrok
Berbeda dengan Madrid, absennya Paris Saint-Germain dari seremoni bukan karena aksi protes. Menurut laporan L’Equipe, PSG terpaksa menarik diri lantaran jadwal Ballon d’Or berbenturan dengan laga tunda melawan Olympique Marseille. Pertandingan itu seharusnya digelar pada Minggu (21/9/2025), namun cuaca ekstrem membuatnya dipindahkan ke Selasa (23/9/2025) dini hari WIB—tepat bersamaan dengan gala penghargaan di Paris. Situasi ini membuat manajemen Les Parisiens memprioritaskan kompetisi resmi ketimbang seremoni individu. Padahal, PSG punya delapan pemain yang masuk nominasi, termasuk Ousmane Dembélé yang difavoritkan berkat treble winners musim lalu dengan catatan 33 gol dan 12 assist dari 45 laga.
Refleksi: Antara Ego Klub dan Realitas Kompetisi
Fenomena absennya dua klub besar ini menggambarkan wajah berbeda sepak bola modern. Madrid menegaskan sikap keras terhadap apa yang mereka anggap ketidakadilan, sedangkan PSG menunjukkan pragmatisme menghadapi padatnya kalender. Bagi publik, peristiwa ini memunculkan diskusi menarik: apakah penghargaan individu masih bisa berdiri netral di tengah tarik-menarik kepentingan klub dan federasi? Dengan venue tetap di Théâtre du Châtelet, Paris, Ballon d’Or 2025 akan tetap berlangsung megah. Namun, absennya dua raksasa Eropa memberi bayangan bahwa prestise penghargaan ini tidak lagi semata ditentukan oleh hasil voting, melainkan juga oleh politik, jadwal, dan gengsi yang tak jarang saling berbenturan

