Salam “Om Shanti” Prabowo di PBB Tuai Pujian Media dan Netizen India

prabowo om shanti pbb

Sorak-sorai warganet India menggema di media sosial setelah Presiden Prabowo Subianto menutup pidatonya. Keramaian digital ini terjadi saat merespondi Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa, Selasa (23/9), dengan ucapan “Om Shanti, Shanti, Shanti” yang diutarakan oleh Prabowo. Rekaman singkat yang memperlihatkan momen itu cepat menyebar, menimbulkan rasa simpati sekaligus kagum. Bagi banyak orang India, ucapan tersebut bukan hanya simbol religius. Melainkan juga pesan universal tentang kedamaian yang terasa relevan di tengah ketegangan global. Reaksi itu memperlihatkan bagaimana satu frasa sederhana bisa melintasi batas budaya. Menumbuhkan rasa kedekatan lintas bangsa dan membuka ruang dialog antar peradaban yang lebih hangat.

Media India Angkat Pidato Prabowo

Beberapa media besar India, termasuk The Times of India dan India Today, menyoroti gaya penutup pidato Prabowo yang dianggap unik karena menggabungkan salam dari berbagai tradisi. Islam, Hindu, Yahudi, dan Buddha. Dalam artikel berjudul From ‘Wassalamu’alaikum’ to ‘Om Shanti’, The Times of India menyebut penutup itu sebagai tanda sekularisme khas Indonesia. Negara dengan mayoritas Muslim tetapi kaya akan keragaman agama. India Today bahkan menekankan bahwa Prabowo menyampaikan salam Sansekerta itu setelah berbicara 19 menit mengenai situasi dunia. Netizen India pun merespons positif. Seorang warganet dengan 128 ribu pengikut menulis, “Seorang presiden negara Muslim mengucapkan Om Shanti, itu luar biasa.” Ucapan serupa membanjiri lini masa, memuji sikap toleransi Prabowo. Bahkan sejumlah tokoh Hindu di India melihat momen itu sebagai jembatan persahabatan spiritual antarbangsa.

Makna di Balik Salam

Ucapan “Om Shanti, Shanti” memiliki arti mendalam dalam tradisi Hindu. “Om” melambangkan suara suci yang menghubungkan dengan kekuatan tertinggi. Sementara “Shanti” berarti damai. Pengulangannya tiga kali dimaknai sebagai doa kedamaian di tingkat fisik, mental, dan spiritual. Ketika seorang presiden Muslim mengucapkannya di forum dunia, makna tersebut berkembang menjadi simbol toleransi dan ajakan global menuju harmoni. Bagi masyarakat internasional, momen ini sekaligus mencerminkan wajah Indonesia: plural, terbuka, dan menjunjung perdamaian. Pesan sederhana itu kini menjelma narasi kuat bahwa diplomasi tidak hanya soal strategi, tetapi juga tentang sentuhan budaya yang menyatukan umat manusia. Lebih jauh, ucapan itu menggarisbawahi bahwa diplomasi modern menuntut pemimpin dunia untuk mampu menyentuh sisi emosional masyarakat global, bukan semata-mata mengutamakan kepentingan politik sempit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *