Suasana di ruang uji coba General Motors (GM) terasa penuh antusiasme ketika perusahaan mengumumkan langkah besar. Menggandakan armada kendaraan dengan fitur Super Cruise menjadi 720 ribu unit. Teknologi ini, yang pertama kali diluncurkan pada 2017, kini mampu beroperasi di 750 ribu mil jalan raya Amerika Serikat dan Kanada. Meski disebut “hands-free,” sistem ini masih memerlukan perhatian pengemudi. Pengguna cukup meletakkan tangan di pangkuan, sementara mobil mengendalikan laju dan arah. Bagi sebagian orang, pengalaman ini terasa seperti mengintip masa depan. Meski faktanya, mobil yang sepenuhnya otonom masih jauh dari kenyataan. GM juga menegaskan bahwa meskipun inovasi ini memudahkan perjalanan jauh, pengemudi tetap diwajibkan menjaga kewaspadaan agar dapat segera mengambil alih kendali jika dibutuhkan.
Kendala Menuju Otonomi Penuh
Ahli industri menekankan bahwa kendaraan otonom Level 5. Sebuah mobil yang benar-benar bisa berjalan tanpa campur tangan manusia dalam kondisi apa pun, tidak akan hadir sebelum 2035. Sam Abuelsamid, wakil presiden riset di Telemetry, menegaskan bahwa sistem “hands-off” seperti Super Cruise akan terus memimpin dekade ini. Namun, ia mengingatkan risiko besar dalam “eyes-off technology” atau teknologi yang membiarkan pengemudi benar-benar lepas perhatian. Data Telemetry memperkirakan pada 2035, sekitar 16 juta kendaraan Level 4 yang memiliki robotaksi, shuttle, hingga mobil pribadi akan diproduksi tiap tahun. Dengan utamanya dominasi pasar di China. Meski begitu, keterbatasan hukum, seperti pelarangan uji coba publik di Tiongkok usai insiden fatal. Menunjukkan bahwa regulasi menjadi hambatan besar bagi percepatan adopsi. Selain itu, biaya pengembangan yang tinggi serta infrastruktur jalan yang belum seragam turut memperlambat langkah produsen otomotif dalam menghadirkan mobil otonom sepenuhnya.
Dimensi Sosial dari Perjalanan
Keterlambatan realisasi mobil otonom penuh menggambarkan kompleksitas antara teknologi, keselamatan, dan kebijakan. GM dan para pesaing seperti Waymo atau Tesla mungkin terus berinovasi. Namun tantangan di jalan raya nyata. Dari regulasi ketat, kecelakaan uji coba, hingga kepercayaan publik. Super Cruise dan sistem serupa memberi masyarakat gambaran tentang kenyamanan berkendara masa depan. Hal ini juga mengingatkan bahwa manusia belum sepenuhnya bisa menyerahkan kendali. Di balik ambisi komersial, ada pertanyaan lebih besar. Apakah masyarakat siap mempercayakan hidupnya pada mesin? Perjalanan menuju era mobil tanpa sopir ternyata bukan sekadar urusan chip dan sensor, melainkan juga menyentuh psikologi, budaya, dan tanggung jawab sosial. Refleksi ini penting, sebab masa depan mobilitas tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis, tetapi juga oleh cara masyarakat menimbang risiko, manfaat, dan nilai-nilai kemanusiaan yang terlibat di dalamnya.

