Universitas Udayana Merespon Isu Bullying, Janji Tindak Tegas Mahasiswa Terlibat

unud bullying

Universitas Udayana (Unud) merespon kabar yang beredar di media sosial mengenai dugaan perundungan terhadap mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) yang meninggal dunia setelah terjatuh dari lantai atas gedung kampus di Jalan Sudirman, Denpasar, pada Rabu (15/10). Melalui keterangan resmi, Ketua Unit Komunikasi Publik Unud, Ni Nyoman Dewi Pascarani menginformasikan bahwa percakapan di media sosial yang memuat ucapan nir empati terjadi setelah peristiwa meninggalnya korban, bukan sebelumnya. “Dengan demikian, ucapan nir empati yang beredar tidak berkaitan atau menjadi penyebab jatuhnya almarhum,” ujarnya, Jumat (17/10).

Dalam rapat koordinasi yang melibatkan pihak FISIP, Dewan Perwakilan Mahasiswa, serta sejumlah mahasiswa terkait, Unud memastikan seluruh data dan kronologi diverifikasi sebelum diserahkan kepada Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (Satgas PPK) universitas untuk ditindaklanjuti sesuai ketentuan hukum. Pihak kampus menegaskan sikap tegas terhadap segala bentuk perundungan, kekerasan verbal, atau tindakan tidak berempati di lingkungan akademik, baik di dunia nyata maupun digital.

Langkah Tegas dan Permintaan Maaf

Unud menyiapkan sanksi disiplin bagi mahasiswa yang terlibat dalam percakapan nir empati. “Universitas tidak akan segan memberikan tindakan tegas sesuai hasil pemeriksaan Satgas PPK,” tegas Dewi. Selain memperkuat sosialisasi etika komunikasi publik, kampus juga meningkatkan literasi digital bagi mahasiswa. Sementara itu, sejumlah mahasiswa yang terlibat sudah menyampaikan permohonan maaf di media sosial, termasuk Wakil Ketua BEM Fakultas Kelautan dan Perikanan, Leonardo Jonathan Handika Putra. Ia mengaku melakukan penghinaan terhadap korban dalam percakapan grup chat dan menyatakan siap mundur dari jabatannya. “Saya mohon maaf kepada almarhum dan keluarga. Saya menyesal atas kegaduhan yang terjadi,” katanya dalam video permintaan maafnya.

Empati dan Refleksi Kampus

Rektor Universitas Udayana, Prof I Ketut Sudarsana, menyampaikan duka cita mendalam kepada keluarga korban. “Kami berduka atas kehilangan mahasiswa terbaik kami. Kampus harus menjadi ruang aman, berempati, dan bebas dari kekerasan,” ujarnya. Ia mengimbau seluruh sivitas akademika menjadikan peristiwa ini sebagai pelajaran tentang pentingnya empati dan saling menghormati antar mahasiswa. Unud juga berkomitmen memberikan pendampingan psikologis bagi mahasiswa terdampak serta memperkuat program kesehatan mental di lingkungan kampus. “Kami menghormati privasi keluarga almarhum dan berharap semua pihak menghentikan penyebaran konten spekulatif yang dapat memperburuk suasana duka,” pungkasnya.