Saat fajar menyapa Kepulauan Seribu, aroma ikan bakar dan sambal khas menyelimuti udara laut yang sejuk. Beberapa perahu nelayan baru kembali dari selat, membawa hasil tangkapan untuk sajian khas harian warga dan wisatawan. Di warung-warung kecil pinggir pantai, sambal beranyut, cabai tumbuk bercampur perasan jeruk limau, disajikan bersama ikan bakar hangat. Cita rasanya pedas menyegarkan dan menggugah selera. Ketika wisatawan bertanya “apa kuliner khas di sini?”, para penduduk setempat dengan bangga menyebut nama makanan tradisional seperti kue selingkuh, maco, talam ikan, hingga janda mengandang.
Ragam Kuliner dan Makna di Balik Resep
Kepulauan Seribu, kabupaten administratif di utara Jakarta, selain dikenal keindahan lautnya, memiliki kekayaan kuliner lokal yang unik. Banyak variasi kulinernya. Sambal beranyut, kue selingkuh, kue maco, talam ikan dari Pulau Pramuka, puk cue (versi lokal mirip pempek namun tanpa kuah). Ada juga sengkulun (kue bertekstur kenyal dari ketan), sate gepuk (ikan tongkol dibumbui & dibakar ala pepes), kue peler bedebu (kue ubi isi gula merah) dan janda mengandang (kue beras-sagu dikukus dengan gula merah cair). Beberapa makanan memiliki latar historis atau kisah lokal. Misalnya “kue selingkuh” dinamai demikian karena istri pembuat berharap suaminya tetap setia meski mengarungi laut jauh. “Janda mengandang” diyakini menjadi bekal para suami melaut. “Sate gepuk” menggunakan ikan tongkol halus sebagai adaptasi lahan laut. Selain citarasa, bahan utama lebih banyak dari laut. Ikan segar menjadi inti banyak hidangan, memperkuat koneksi antara masyarakat pesisir dengan laut mereka.
Kuliner Sebagai Jembatan Budaya & Pariwisata
Kekayaan kuliner di Kepulauan Seribu bukan sekadar hidangan lokal. Ia mencerminkan identitas budaya, kearifan lokal, dan potensi pariwisata kuliner yang jarang digarap. Wisatawan yang datang tidak hanya ingin menikmati pasir putih dan laut biru. Tetapi juga meresapi rasa lokal yang tak ditemukan di daratan besar. Ketika tiap gigitan membawa cerita, tentang sejarah, kepercayaan, atau perjuangan nelayan, kuliner menjadi medium jembatan antara masa lalu dan masa kini.
Namun tantangan besar tetap ada. Bagaimana menjaga resep lokal agar tidak punah atau tergerus inovasi massal? Pemerintah daerah dan pengelola pariwisata perlu menjadikan kuliner tradisional ini sebagai elemen promosi, pelatihan, dan pemasaran agar keberlanjutan budaya bisa bertahan. Karena di balik beragam menu tersebut, terdapat warisan laut dan rasa Indonesia yang layak dibanggakan dan dilestarikan.

